Menjaga asa rekonstruksi Aceh

1 month ago 23
Permasalahan di Desa Tetingi menjadi refleksi yang penting dalam proses besar rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh

Jakarta (ANTARA) - Kisah kebangkitan perlahan mulai tumbuh dari puing-puing sisa banjir bandang, November lalu, yang meluluhlantakkan Aceh. Di Desa Tetingi, Kecamatan Pantan Cuaca, Kabupaten Gayo Lues, jejak rekonstruksi nyata terlihat.

Rumah kembali berdiri, jalan mulai terhubung, dan harapan warga yang sempat hanyut kini kembali bersemi. Upaya pemerintah bukan sekadar membangun fisik, melainkan menyalakan kembali semangat hidup setelah bencana November 2025 itu.

Tetingi merupakan sebuah desa tua yang berada di lembah perbukitan Dataran Tinggi Gayo. Secara sosiogeografis, desa yang terbentuk lebih dari satu abad itu berkembang dengan pola permukiman linier memanjang mengikuti aliran anak sungai di kawasan DAS Alas. Sebuah pola yang lazim di wilayah pegunungan karena kedekatannya dengan sumber air sekaligus menjaga akses hidup mereka yang mayoritas adalah petani.

Mereka sejatinya sudah terbiasa hidup bersahabat dengan kondisi bentang alam eksotis namun ekstrem. Suhu terdingin bisa 13-17 derajat celcius karena daerah itu berada pada ketinggian 800-900 meter di atas permukaan laut (MDPL). Lalu berdampingan dengan aliran Sungai Alas, yang merupakan sungai dengan jeram kuat yang berisiko tinggi -- kalangan pegiat olahraga arung jeram mengklasifikasikannya pada level tertinggi (grade IV).

Pendangkalan ditambah tingginya intensitas hujan selama sepekan sebelum bencana terjadi membuat sumber aliran dari tiga hulu sungai pegunungan Leuser itu meluap hebat seketika menghantam permukiman Desa Tetingi.

Seluruh penduduk desa, sebanyak 418 jiwa, menjadi korban terdampak. Mereka sempat hidup dalam keterisolasian. Tidak ada tempat bermukim karena rumah rusak, akses jalan putus, jaringan listrik padam. Hanya bisa berlindung dalam pondok kayu di tengah rimbun tanaman serai dan pepohonan pinus garapan mereka.

Mereka bertahan hanya mengandalkan baju di badan dan bara api unggun untuk menghangatkan diri. Beruntung, pertolongan tiba kurang dari 10 hari setelah bencana. Ini tergolong cepat dibandingkan daerah terdampak bencana yang lain. Kondisi ini tidak lepas dari berhasilnya pemerintah membuka jalan alternatif.

Jalan yang memotong tebing itu menjadi akses utama masyarakat menggantikan jalan penghubung utama desa via Blangjerango, jalan sepanjang delapan kilometer yang amblas dan tertimbun longsor.

Tim petugas dari berbagai satuan datang, memperbaiki jembatan yang roboh, termasuk jaringan listrik. Begitupun sarana gedung sekolah dan fasilitas kesehatan yang sudah bersih dari segala macam material endapan banjir. Selama tiga bulan masa tanggap darurat itu berlalu, semua hampir sepenuhnya teratasi, tenteram nan damai.

Sisa puing bangunan rumah warga penyintas banjir bandang di Desa Tetingi, Pantan Cuaca, Gayo Lues, Aceh. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Beberapa masalah

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |