Menilik kebangkitan industri China dari perspektif yang lebih luas

18 hours ago 5

Beijing (ANTARA) - Seiring China terus meningkatkan basis manufaktur dan memperluas produksi di berbagai sektor, mulai dari kendaraan listrik (electric vehicle/EV) hingga peralatan energi terbarukan, sejumlah negara Barat kembali menghidupkan tudingan mengenai "kelebihan kapasitas" China untuk membenarkan penerapan tarif baru dan pembatasan investasi.

Namun, tudingan terbaru itu melampaui persoalan kapasitas produksi, yang mencerminkan kekhawatiran yang kian meningkat di sejumlah perekonomian mengenai daya saing industri dan posisi pasar.

Isu yang lebih luas adalah bagaimana kapasitas, persaingan, dan kerja sama industri seharusnya dipandang di tengah perubahan teknologi dan restrukturisasi rantai pasokan global.

Tanpa definisi yang diterima secara universal, konsep kelebihan kapasitas telah menjadi sarana yang mudah dimanfaatkan sejumlah politisi untuk mempolitisasi isu ekonomi dan perdagangan, dengan menjadikan subsidi, surplus perdagangan, serta volume ekspor China sebagai indikasi persaingan yang "tidak adil" dan "kelebihan kapasitas".

China memiliki sistem manufaktur terbesar dan paling lengkap di dunia, yang memungkinkannya memasok secara efisien beragam produk industri dalam skala besar.

"Surplus perdagangan China mencerminkan kelengkapan dan efisiensi sistem industrinya serta merupakan hasil objektif dari perubahan dalam spesialisasi dan pola perdagangan global," kata seorang pejabat Kementerian Perdagangan China He Shaojun.

Bagi banyak pengamat di luar China, kebangkitan industri China kini kerap diukur dari pesatnya pertumbuhan industri seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), EV dan baterai canggih.

Di balik daya saing saat ini terdapat investasi selama puluhan tahun dalam penelitian dan pengembangan (litbang), keunggulan pasar domestik yang luas, ekosistem industri yang komprehensif, serta reformasi berorientasi pasar yang berkelanjutan.

Meskipun sejumlah negara kembali mengangkat narasi lama bahwa perkembangan industri China didorong oleh subsidi pemerintah, industri-industri tersebut merupakan hasil akumulasi teknologi, peningkatan industri, dan inovasi berkelanjutan, bukan semata dukungan kebijakan jangka pendek.

Kapasitas manufaktur itu memainkan peran penting dalam menstabilkan pasokan global, membantu mengatasi kekurangan pasokan di sejumlah wilayah yang disebabkan oleh proteksionisme, ketegangan geopolitik dan gangguan lainnya, sekaligus menjadi salah satu pilar utama rantai industri dan pasokan global.

Hal yang lebih penting, peningkatan industri China telah menciptakan berbagai peluang yang meluas jauh melampaui batas negaranya sendiri.

Perusahaan penanaman modal asing, pemasok global, dan konsumen semuanya telah memperoleh manfaat dari integrasi China ke dalam jaringan produksi dan perdagangan internasional.

Pada saat yang sama, peningkatan permintaan domestik China yang didorong oleh peningkatan kualitas konsumsi, transisi hijau, dan investasi infrastruktur digital menghasilkan permintaan berkelanjutan terhadap produk, teknologi, dan jasa dari seluruh dunia.

Selama satu dekade terakhir, China menyumbang sekitar 30 persen terhadap pertumbuhan ekonomi global, menjadi salah satu sumber penting stabilitas bagi perekonomian dunia.

China memasok lebih dari 80 persen modul fotovoltaik dan 70 persen peralatan pembangkit listrik tenaga bayu dunia, sehingga memberikan dukungan penting bagi transisi hijau negara-negara mitra dagangnya.

Perusahaan penanaman modal asing menyumbang 16 persen dari surplus perdagangan China, sekaligus memperoleh imbal hasil yang signifikan atas investasi mereka.

Perspektif yang lebih luas kerap terabaikan dalam pembahasan mengenai apa yang disebut sebagai "kelebihan kapasitas". Bagi banyak negara berkembang, pasokan produk China yang efisien dari segi biaya berarti akses yang lebih luas terhadap teknologi, peralatan, dan pengetahuan industri.

Ekspor China berupa komponen dan peralatan produksi berkualitas tinggi dengan harga terjangkau telah menurunkan hambatan industrialisasi bagi banyak negara berkembang.

Selama periode 2012 hingga 2024, China mengekspor mesin tekstil senilai lebih dari 30 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.919) ke negara-negara berkembang, membantu perekonomian di Asia Tenggara dan Asia Selatan memperluas kapasitas manufaktur tekstil dan berkembang sebagai produsen dan eksportir utama produk tekstil.

Melalui Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road Initiative/BRI), perluasan akses pasar, platform berbagi teknologi seperti program Lokakarya Luban, serta penyediaan produk energi terbarukan dengan harga terjangkau, China berupaya memperkuat kapasitas negara-negara berkembang untuk membangun industri berkelanjutan mereka sendiri.

Upaya-upaya tersebut ditujukan untuk meningkatkan pertumbuhan yang mandiri dan berkelanjutan dengan menurunkan hambatan industrialisasi, meningkatkan kemampuan teknis, serta memperluas partisipasi dalam rantai nilai global.

"Alih-alih menggunakan kebijakan industri sebagai instrumen untuk membatasi perkembangan negara lain, semua negara seharusnya berfokus pada perluasan peluang pembangunan global melalui kebijakan industri yang wajar, transparan dan berbasis aturan," kata Han Yong, seorang pejabat Kementerian Perdagangan China.

Dia mengatakan bahwa China siap bekerja sama dengan semua pihak dalam kerangka Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk memperkuat dialog mengenai kebijakan industri, memperbaiki praktik terkait, serta memajukan aturan perdagangan multilateral agar selaras dengan perkembangan realitas ekonomi.

Pewarta: Xinhua
Editor: Imam Budilaksono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |