Mengatasi jerat Yolo dengan strategi Yono

5 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Aktris lawas Mary Jane “Mae” West terkenal dengan kutipannya "you only live once, but if you do it right, once is enough". Hidup hanya sekali, namun jika kau lakukan dengan benar, sekali saja sudah cukup.

Makna kutipan ini adalah kita diajak untuk tidak menyia-nyiakan hidup, tetapi menjalaninya dengan sebaik mungkin agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.

Pada 2011, Rapper Drake merilis lagu “The Motto” yang mempopulerkan istilah YOLO sebagai semboyan hidup spontan dan bebas. “You only live once, that’s the motto... YOLO”. Demikian penggalan lagunya.

YOLO kemudian menjadi jargon populer di media sosial yang sering digunakan untuk membenarkan tindakan impulsif, menikmati hidup tanpa terlalu khawatir dengan konsekuensi.

Di era digital ini, banyak orang yang terjerumus ke dalam gaya hidup YOLO (You Only Live Once), yang mendorong konsumsi berlebihan demi kesenangan sesaat. Gaya hidup yang demikian terkait erat dengan fenomena FOMO (fear of missing out) alias ketakutan berlebihan tidak mengetahui tren terkini, serta FOPO (fear of people’s opinion) atau ketakutan terhadap pendapat orang lain.

Banyak orang kemudian terjebak dalam pola hidup yang tidak berkelanjutan. Mereka terjerat hutang, baik dari pinjaman online (pinjol) maupun kartu kredit, yang akhirnya menggerus mental dan produktivitas.

Sayangnya, mereka tidak menyadari bahwa gaya hidup YOLO yang dipicu oleh FOMO dan FOPO itu telah membuat mereka terjerat hutang. Mereka tergoda untuk membeli barang mewah demi pencitraan, padahal penghasilan tidak mencukupi.

Akibatnya, utang menumpuk dengan bunga tinggi, penghasilan terkuras untuk cicilan, dan tinggal sedikit untuk memenuhi kebutuhan pokok. Stres mental meningkat, produktivitas kerja atau bisnis anjlok, dan hubungan sosial rusak karena tekanan finansial.

Ada beberapa hal yang bisa menjadi jalan keluar bagi mereka yang terjebak ke dalam gaya hidup ini.

Solusi awal adalah melakukan audit keuangan. Catat semua utang, beserta bunga dan jatuh tempo. Hitung juga rasio utang terhadap penghasilan. Jika utang melebihi 50% penghasilan, prioritas utama adalah negosiasi ulang dengan kreditur untuk pembayaran bertahap.

Mental drop adalah musuh utama saat terjerat hutang. Rasa putus asa sering kali menghentikan upaya untuk bangkit.

Melepas ego menjadi langkah psikologis yang penting di sini. Salah satunya adalah dengan mengakui kesalahan perilaku konsumtif tanpa menyalahkan orang lain. Kemudian, mencari dukungan dari keluarga, teman, atau konsultan keuangan. Banyak juga komunitas wirausaha yang menyediakan bimbingan gratis.

Setelah mental stabil, langkah selanjutnya adalah memulai perbaikan. You only need one (YONO), sepertinya jargon yang tepat sebagai “antidot” untuk YOLO.

Fokus pada tiga hal utama. Pertama, mengurangi beban utang.

Langkah penting untuk mengurangi beban utang adalah dengan memprioritaskan pembayaran utang dengan bunga tertinggi, seperti pinjol. Jika perlu, aset yang tidak penting bisa dijual untuk melunasi utang. Kemudian, dilakukan negosiasi ulang dengan kreditur untuk pembayaran bertahap atau bunga yang lebih rendah. Bagi yang tidak memiliki aset, langkah penting adalah menghitung berapa penghasilan ideal yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Kedua, berusaha dengan sungguh-sungguh dengan memanfaatkan kemampuan yang dimiliki untuk meraih penghasilan. Ini bisa dilakukan dengan berwirausaha, mencari komunitas wirausaha untuk belajar, atau mengikuti pelatihan dan kursus yang relevan dengan bidang pekerjaan. Berusaha dengan halal berarti menghindari tindakan seperti menipu, kongkalikong, menimbun barang, dan aktivitas lainnya yang merugikan orang lain. Pilih pekerjaan atau bisnis yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat.

Ketiga, bersedekah meskipun situasi masih sulit. Bersedekah dapat menjadi katalis untuk mempercepat pencapaian penghasilan ideal. Mengapa? Karena bersedekah memiliki dampak psikologis yang positif sebagaimana artikel yang terbit di Psychology Today yang menjelaskan saat seseorang bersedekah (memberi), hormon-hormon pemicu rasa bahagia seperti dopamin, serotonin, dan oksitosin dilepaskan.

Rasa bahagia ini meningkatkan perasaan senang dan kepuasan batin, yang kemudian berpengaruh positif pada produktivitas dan semangat bekerja atau berbisnis. Dikuatkan pula oleh hasil riset di Journal of Labor Economics yang menemukan bahwa kebahagiaan dapat meningkatkan produktivitas.

Setelah itu, langkah penting lain adalah menggunakan Matrix Eisenhower untuk menentukan prioritas pengeluaran. Pengelompokan pengeluaran berdasarkan tingkat prioritas dapat membantu dalam mengelola keuangan secara lebih efektif.

Pengeluaran yang termasuk dalam kategori penting dan mendesak seperti makanan, sewa tempat tinggal, pendidikan, dan transportasi harus menjadi prioritas utama karena merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi.

Selanjutnya, pengeluaran yang penting namun tidak mendesak seperti tabungan darurat dan investasi kecil harus menjadi prioritas kedua karena berhubungan dengan persiapan untuk masa depan.

Pengeluaran yang tidak penting namun mendesak seperti hiburan mewah dan belanja impulsif sebaiknya dihindari karena hanya akan memboroskan uang tanpa memberikan manfaat jangka panjang.

Terakhir, pengeluaran yang tidak penting dan tidak mendesak seperti barang mewah yang tidak diperlukan harus dihapus dari daftar belanja karena tidak memberikan nilai tambah bagi kehidupan sehari-hari.

Dengan mengikuti prioritas ini, pengelolaan keuangan akan lebih terarah dan efisien. Setelah utang terkendali, alokasikan penghasilan dengan bijak.

Untuk mencegah agar tidak kambuh, paparan media sosial yang memicu FOMO sebaiknya mulai dibatasi. Selain itu, waktu berada di platform yang sering menampilkan gaya hidup mewah dikurangi. Akan lebih bermanfaat jika waktu yang ada dimanfaatkan untuk mengikuti seminar literasi keuangan, seperti program OJK, untuk meningkatkan pengetahuan manajemen keuangan.

Membangun mindset juga penting. Jika ingin membeli sebuah barang, sebaiknya lebih memilih barang yang tahan lama dan multifungsi. Prioritas ada pada masalah kualitas, bukan kuantitas. Fokus pada investasi jangka panjang daripada konsumsi sesaat. Contoh: beli emas 24 karat daripada gadget baru.

YONO bukan sekadar tren, tetapi paradigma hidup yang mengajarkan kita untuk "hidup sekali dengan bijak". Bagi mereka yang terjerat hutang karena YOLO, langkah pertama adalah dengan menyadari bahwa perilaku YOLO, FOMO, dan FOPO ini keliru. Kemudian mengakui bahwa perilaku yang keliru ini menjadi sumber timbulnya kekacauan finansial.

Selanjutnya, perbaiki dengan strategi YONO, yakni dengan menerapkan prioritas "penting-mendesak" dan fokus pada keberlanjutan ekonomi keluarga. Dengan skema ini, insya Allah siapa pun bisa melepaskan jeratan YOLO, FOMO, dan FOPO sehingga kembali produktif.

"Orang menjadi kaya bukan dilihat dari berapa harta yang dimiliki, namun dari bagaimana cara ia mengaturnya."

*) Baratadewa Sakti Perdana ST ME CPFA CPRM CPMM AWP adalah praktisi Keuangan Keluarga & Pendamping Keuangan Bisnis UMKM

Copyright © ANTARA 2025

Read Entire Article
Rakyat news | | | |