Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mendorong pemanfaatan teknologi pengolahan sampah organik melalui budi daya maggot dalam mengatasi krisis sampah nasional.
Dalam upaya menciptakan standar baru dalam tata kelola lingkungan berbasis komunitas, ia menegaskan keterlibatan perguruan tinggi dalam melakukan peninjauan terhadap pengelolaan limbah di sektor swasta atau kawasan pemukiman yang memiliki fasilitas pemulihan material (MRF) sendiri atau sistem pengolahan mandiri.
"Untuk kompleks-kompleks yang sudah menghasilkan sistem pengolahan akan diberikan label green atau prowaste dan kampus yang akan meninjau dan menilai," katanya melalui keterangan di Jakarta, Senin.
Ia menyebut implementasi teknologi biokonversi dalam skala besar telah menunjukkan hasil signifikan, terutama pada sektor-sektor dengan karakteristik limbah organik tinggi.
Ia menilai pengolahan sampah organik melalui budi daya maggot dipilih karena terbukti mampu menekan residu hingga ke level 3 persen di sektor pariwisata dan perumahan.
Baca juga: Mahasiswa UMM edukasi warga "sulap" limbah maggot jadi pakan ternak
Selain itu, ia menekankan sinergi perguruan tinggi dan mahasiswa untuk melakukan survei dan pemetaan data sampah secara presisi di berbagai wilayah.
"Data ini akan menjadi fondasi utama bagi setiap daerah dalam menyusun masterplan pengelolaan sampah yang berbasis data ilmiah," katanya.
Dalam hal ini, Menteri Brian mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi dengan industri, termasuk peternak maggot dalam rangka menangani pengelolaan sampah, sehingga pengelolaan juga memberikan dampak yang baik bagi masyarakat.
Sebelumnya, ia juga menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam percepatan penanganan sampah di tanah air.
Ia mendorong kampus untuk menjadi living laboratory bagi inovasi teknologi ramah lingkungan, mulai dari pengolahan organik, daur ulang, hingga konversi sampah menjadi energi.
Presiden RI Prabowo Subianto mengarahkan seluruh jajaran pemerintah baik pusat maupun daerah untuk konsisten dalam melakukan penanganan sampah.
Aksi nyata penanganan darurat sampah dilakukan melalui Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Rapi, dan Indah (ASRI) sebagai langkah konkret dari arahan Presiden RI yang menginstruksikan penguatan konsistensi pembersihan lingkungan dan pengelolaan sampah secara berkelanjutan di seluruh penjuru Indonesia.
Baca juga: Tim Polinela temukan manfaat maggot BSF untuk pengelolaan feses ayam
Baca juga: Platform digital eMaggot dari Pemprov DKI dapatkan apresiasi
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































