Jakarta (ANTARA) - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan pemerintah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif untuk meredam dampak ekonomi global akibat eskalasi serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Ditemui di kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Senin, Budi mengatakan pengalaman konflik sebelumnya antara Iran dan Israel tidak berdampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia.
Namun menurutnya, apabila terjadi eskalasi hingga penutupan Selat Hormuz, maka harga minyak dunia berpotensi melonjak. Kenaikan harga energi akan berdampak langsung pada biaya produksi, transportasi, hingga harga barang konsumsi.
"Pasti ya, nanti minyak atau bahan bakunya jadi naik ya. Tapi kan gini, pertumbuhan ekonomi kita kan banyak ditopang oleh konsumsi dalam negeri, konsumsi domestik. Jadi ya kita harus memberdayakan itu, tetap menjaga itu," ujar Budi.
Baca juga: BPS catat surplus neraca dagang RI berlanjut 69 bulan di Januari 2026
Ia menyebut sektor manufaktur dan ekspor akan menjadi yang paling terdampak karena adanya peningkatan biaya produksi dan logistik. Namun, hal ini tidak hanya berlaku bagi Indonesia saja, tetapi bersifat global.
Oleh karena itu, strategi kedua pemerintah adalah mendorong ekspor ke pasar-pasar yang relatif tidak terdampak konflik. Diversifikasi tujuan ekspor dinilai penting untuk menjaga momentum perdagangan di tengah ketidakpastian global.
Pemerintah, lanjutnya, akan memaksimalkan berbagai stimulus yang telah disiapkan khususnya menjelang momentum Lebaran, serta mendorong kolaborasi dengan sektor swasta untuk menjaga perputaran ekonomi domestik.
"Kita antisipasi itu dulu, kita jaga momentum yang bagus itu. Apalagi ini mau Lebaran, saya pikir banyak ya stimulus yang telah diberikan oleh pemerintah. Dan kita akan terus melakukan gerakan-gerakan bersama swasta, ya untuk meningkatkan daya beli kita, untuk meningkatkan daya beli kita di pasar domestik," jelasnya.
Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































