Menanti efek Patimban

1 week ago 7
Infrastruktur tersebut memperkuat konektivitas kawasan industri di Subang

Jakarta (ANTARA) - Cerita tentang rencana pembangunan infrastruktur pendukung Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat, sudah lama terdengar.

Pelabuhannya itu sendiri sudah beroperasi sejak 2021 dengan fungsi sebagai pelabuhan hub industri baru untuk mengurangi beban Tanjung Priok yang semakin kewalahan.

Peta jalan infrastruktur pendukung Patimban juga sudah digambar sejak puluhan tahun silam. Namun dalam lima tahun terakhir, Patimban masih menunggu penyempurnaan.

Kabar baiknya, rencana yang dulu dalam bayangan banyak orang itu saat ini sudah mulai mewujud. Perkembangan pembangunan Jalan Tol Akses Pelabuhan Patimban sampai Juni 2026, progres fisik pada ruas sepanjang 22,94 kilometer yang mencakup Section Pasir Bungur sampai Patimban itu telah mencapai 68 persen.

Memang masih agak jauh dari tuntas namun sepertinya arahnya sudah semakin jelas. Pemerintah sedang menyambungkan kawasan industri dengan salah satu pelabuhan yang diproyeksikan menjadi pintu ekspor baru Indonesia.

Kementerian Pekerjaan Umum menyatakan bahwa Jalan Tol Akses Patimban dirancang untuk menghubungkan Pelabuhan Patimban dengan ruas Tol Cikopo–Palimanan.

Infrastruktur tersebut memperkuat konektivitas kawasan industri di Subang. Jalur tersebut memperpendek perjalanan dari kawasan industri di Subang menuju pelabuhan. Waktu tempuh menjadi lebih singkat. Distribusi juga menjadi lebih terukur.

Perubahan ini dampaknya akan besar bagi dunia usaha. Salah satu kawasan yang memperoleh manfaat adalah Subang Smartpolitan yang dikembangkan Suryacipta. Kawasan ini merupakan kota industri terintegrasi yang dikembangkan oleh PT Suryacipta Swadaya (Suryacipta), anak usaha PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA).

Chief Commercial Officer Suryacipta Abednego Purnomo mengatakan efisiensi logistik tidak hanya dihitung dari ongkos angkut. Industri juga menghitung kecepatan barang bergerak dari pabrik menuju pelabuhan serta kepastian pengirimannya. Bagi perusahaan yang melayani pasar ekspor, kepastian sering kali lebih penting daripada selisih biaya transportasi.

Perusahaan dapat menghitung biaya produksi sejak awal. Namun mereka sulit menghitung kerugian akibat keterlambatan pengiriman. Ketika kapal sudah berangkat, barang harus menunggu jadwal berikutnya. Waktu yang hilang sering kali lebih mahal daripada ongkos angkut itu sendiri.


Posisi Subang

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |