Natuna (ANTARA) - Hamparan laut biru menjadi pemandangan yang lebih dominan daripada daratan di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, sebab sekitar 98 persen wilayah itu berupa perairan.
Daratan yang terbatas dan jumlah petani yang sedikit membuat ruang untuk mengembangkan sektor pertanian tidak seluas daerah lain. Namun, keterbatasan itu tidak dijadikan alasan oleh pemerintah daerah untuk menyerah.
Pemerintah Kabupaten Natuna terus berupaya mewujudkan program swasembada pangan nasional, khusus beras.
Bersama petani yang tetap bertahan mengolah sawah, pemerintah daerah berusaha mencari cara agar setiap jengkal tanah yang tersedia dapat memberikan hasil maksimal.
Salah satu upaya yang dilakukan ialah dengan mendorong petani mengoptimalkan lahan yang sama secara berulang melalui peningkatan indeks pertanaman atau meningkatkan masa tanam.
Petani diarahkan menanam padi hingga dua bahkan tiga kali dalam setahun pada lahan yang sama, sehingga produksi gabah kering dapat meningkat meski luas lahan pertanian di Natuna terbatas.
Strategi tersebut dinilai memungkinkan karena padi merupakan tanaman pangan yang memiliki masa tanam relatif singkat, yakni sekitar tiga bulan hingga siap dipanen. Setelah dipanen, bulir padi atau gabah akan melalui proses pengeringan dan penggilingan untuk memisahkan kulitnya hingga menjadi beras yang siap dikonsumsi.
Dengan siklus tanam yang cepat, petani memiliki peluang untuk meningkatkan frekuensi panen dalam satu tahun, sehingga produktivitas lahan dapat dimaksimalkan tanpa harus membuka lahan pertanian baru.
Upaya tersebut tidak berhenti pada ajakan semata. Pemerintah daerah berusaha mengurangi beban biaya produksi petani sekaligus menjaga agar tidak terjadi gagal panen. Berbagai dukungan diberikan, mulai dari alat dan mesin pertanian (alsintan) hingga sarana produksi pertanian (saprodi).
Melalui bantuan alsintan, Pemkab Natuna menghadirkan dukungan berupa Sistem Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) dan Sistem Irigasi Perpompaan (Irpom). Infrastruktur tersebut menjadi penting bagi petani, terutama untuk memastikan tanaman padi tetap mendapatkan pasokan air saat menghadapi musim kemarau.
Sementara itu, bantuan saprodi diberikan dalam bentuk benih padi, pupuk gratis, hingga pupuk bersubsidi. Bantuan itu bersumber dari APBN dan APBD sebagai stimulus untuk kebutuhan produksi.
Pada semester I 2026, pupuk subsidi kembali diberikan kepada 733 petani yang tergabung dalam kelompok tani aktif. Total pupuk yang disalurkan mencapai 188,53 ton, terdiri atas pupuk NPK, urea, dan organik.
Irpom juga sedang dalam proses pengerjaan sebanyak lima unit. Tiga di antaranya dibangun di Pulau Serasan, salah satu pulau terdepan Indonesia.
Produksi
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































