Jakarta (ANTARA) - Menahan keinginan untuk buang air besar (BAB) kerap diabaikan terutama di tengah kesibukan atau sulit menemukan kamar mandi, namun jika kebiasaan ini terus dilakukan dampaknya dapat mengganggu fungsi usus.
Menurut laporan EatingWell, pada Minggu, kebiasaan BAB yang sehat merupakan salah satu tanda bahwa tubuh bekerja sebagaimana mestinya. Sebaliknya, jika kebiasaan menunda BAB bisa meningkatkan risiko wasir, mengubah konsistensi feses, dan menyebabkan konstipasi.
“Kalau sesekali mengabaikan keinginan BAB biasanya tidak masalah. Tetapi jika menjadi kebiasaan, feses akan berada lebih lama di dalam usus besar,” ujar dokter gastroenterologi Dr. Supriya Rao.
Dalam jangka panjang, menahan BAB dapat menyebabkan konstipasi atau sembelit, yaitu kondisi ketika frekuensi buang air besar menjadi lebih jarang dan feses cenderung keras atau kering.
Normalnya, feses berpindah dari usus besar menuju rektum saat tubuh siap mengeluarkannya. Ketika dorongan BAB diabaikan, feses akan bertahan lebih lama di usus besar.
Baca juga: 7 bahaya menahan BAB pada kesehatan, jangan dianggap sepele!
Ahli gastroenterologi Dr. Carmen Fong, FACS mengatakan bahwa usus besar sangat efisien menyerap air. Semakin lama feses berada di sana, semakin banyak air yang diserap sehingga feses menjadi lebih kering dan keras. Akibatnya, BAB berikutnya akan terasa lebih sulit dan tidak nyaman.
“Menahannya terlalu sering menyebabkan siklus sembelit, tubuh mulai mengabaikan sinyal buang air besar sama sekali, yang menyebabkan penumpukan tinja di usus besar,” kata Dr. Carmen Fong, FACS.
Menahan BAB juga dapat memengaruhi fungsi normal rektum. Dokter Rao mengatakan jika terus menahan keinginan BAB, rektum dapat meregang sehingga sensitivitasnya berkurang.
“Bahkan dalam beberapa kasus dapat memicu menyebabkan bisul pada rektum,” kata Rao.
Rektum memiliki saraf yang mengirimkan sinyal ke otak bahwa sudah waktunya ke toilet. Proses ini dibantu oleh refleks rectoanal inhibitory reflex (RAIR) yang membuat sfingter anus mengendur sehingga feses dapat masuk ke rektum sebelum dikeluarkan.
Jika dorongan BAB terus diabaikan, sinyal tersebut lama-kelamaan menjadi kurang efektif. Akibatnya, seseorang menjadi kurang peka terhadap rasa ingin BAB. Dalam jangka panjang kondisi ini dapat memicu konstipasi kronis maupun gangguan fungsi rektum.
Baca juga: Smoothie kiwi jadi pilihan minuman malam untuk bantu redakan sembelit
Menahan BAB juga berisiko meningkatkan wasir atau hemoroid yang merupakan pembengkakan pembuluh darah di sekitar anus yang dapat terjadi di bagian dalam maupun luar. Kebiasaan ini membuat feses menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan, risiko wasir ikut meningkat.
“Feses yang keras biasanya membuat seseorang harus mengejan lebih kuat, dan itulah salah satu faktor risiko wasir,” jelas Rao.
Menahan BAB juga dapat mengubah tekstur feses. Fong mengatakan semakin lama feses berada di usus besar yang terus menyerap air, semakin keras dan kering feses tersebut sehingga lebih sulit dan menyakitkan saat dikeluarkan.
Penumpukan feses keras di rektum juga dapat menyebabkan inkontinensia feses, yaitu keluarnya feses secara tidak terkendali.
“Ketika ada gumpalan feses keras yang menyumbat rektum (impaksi feses), feses cair yang baru datang dari atas tidak memiliki jalan keluar sehingga merembes melewati sumbatan,” tutur Fong.
Adapun cara yang disarankan para ahli untuk menjaga kesehatan saluran cerna. Fong menekankan saat tubuh memberi sinyal ingin BAB, segeralah ke toilet. Disarankan jangan duduk hingga mengejan terlalu lama di toilet sambil menunggu BAB.
Baca juga: Tidur teratur bantu melancarkan buang air besar di pagi hari
“Batasi waktu duduk di toilet sekitar 2–5 menit. Jika dalam lima menit belum terjadi BAB, berarti tubuh memang belum siap,” ujar Fong.
Kemudian, penuhi kebutuhan serat itu membantu membentuk massa feses sehingga lebih mudah bergerak melalui saluran pencernaan. Sumber serat yang baik antara lain buah, sayur, kacang-kacangan hingga biji-bijian.
Kecukupan cairan juga sangat penting untuk menjaga kelancaran BAB. Selain air putih, cairan juga dapat diperoleh dari buah-buahan, sayuran, sup, maupun minuman lain yang mengandung air.
“Usus besar terus menyerap air dari feses. Jika tubuh terhidrasi dengan baik, feses tetap lunak dan mudah dikeluarkan,” kata Fong.
Aktivitas fisik juga membantu kerja usus. Perubahan pola BAB terkadang menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang lebih serius.
“Jika mengalami konstipasi selama tiga minggu atau lebih, nyeri perut hebat, mual, darah pada feses, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau perubahan mendadak pada pola BAB, segera konsultasikan dengan dokter,” kata Rao.
Baca juga: Minuman pagi selain kopi yang bantu atasi sembelit
Baca juga: Kebiasaan yang bisa membantu melancarkan BAB pada pagi hari
Penerjemah: Sri Dewi Larasati
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































