Membebaskan belenggu dikotomi keilmuan agama dan pengetahuan

4 hours ago 2

Surabaya (ANTARA) - Pada Ramadhan hari ke-3 tahun 1447 H saya mengajar mata kuliah Integrated Twin Towers di kelas Magister Sains Data pada Fakultas Saintek UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA). Kebetulan topiknya adalah Konsep Integrasi Keilmuan & Tinjauan Filosofis.

Sejumlah perguruan tinggi keagamaan islam negeri (PTKIN), khususnya UIN, perlu memiliki konsep untuk mengembangkan dan mentransformasikan ilmu pengetahuan agar tidak terlepas dari nilai-nilai Islam, yang karenanya di UINSA memandang penting keberadaan mata kuliah Integrasi Keilmuan tersebut diajarkan.

Tujuan utamanya adalah mencoba membebaskan diri dari belenggu dikotomi keilmuan antara ilmu pengetahuan umum dengan studi Islam. Dalam sejarahnya pada awal kemerdekaan republik ini berdiri, atensi pemerintah untuk mendirikan Kementerian Agama (dulu Departemen Agama) adalah untuk memayungi dan mengawal keagamaan masyarakat kita, mengingat Indonesia adalah bangsa majemuk yang religius berdasarkan sila pertama Pancasila.

Kewenangan tersebut meliputi menjaga harmoni umat beragama hingga mendorong laju pendidikan agama dan keagamaan. Oleh sebab itu eksistensi pendidikan agama, seperti madrasah di jenjang pendidikan dasar dan menengah hingga perguruan tinggi Islam, adalah bagian dari ekosistem pembangunan di bidang agama dan keagamaan.

Dengan demikian dalam konteks perguruan tinggi Islam, yang diajarkan saat itu masih seputar ilmu-ilmu keislaman dengan berbagai jurusan dan fakultas yang ada, seperti tarbiyah, syariah, dakwah, ushuluddin, serta adab. Nomenklatur perguruan tinggi islam negeri, saat itu masih Institut Agama Islam Negeri (IAIN) atau Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN). Singkat kata, ilmu yang diajarkan masih serumpun.

Seiring perkembangan zaman, tuntutan bahwa perguruan tinggi islam tidak hanya perlu untuk mengkaji ilmu-ilmu keislaman menjadi hal yang menemukan momentum. Di berbagai tempat atau negara lain, perluasan kajian ilmu pengetahuan sudah tidak dapat dinafikkan, dan karenanya mereka menggunakan nama universitas (yang mengajarkan atau mengkaji banyak disiplin ilmu).

Singkatnya, dalam konteks PTKIN di tanah air, transformasi dari institut menjadi universitas pertama kali terjadi pada 2002. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang mengawali transformasi dari IAIN, disusul dengan UIN Yogyakarta, UIN Malang, UIN Bandung, kemudian UIN Surabaya.

Dalam hal transformasi kelembagaan itu, hal yang perlu ditangani tidak hanya urusan sistem birokrasi dan nomenklatur kelembagaan, tetapi juga soal konsep nilai sebagai fondasi UIN untuk menyelenggarakan pendidikan multidisiplin: antara ilmu-ilmu agama (ulumuddin) dengan ilmu-ilmu pengetahuan sekuler, sekaligus menghapus dikotomi antarkeduanya.

Suka tidak suka, fakta sejarah menunjukkan bahwa dikotomi ilmu pengetahuan dengan agama pernah ada, atau mungkin masih ada. Dalam sejarahnya polarisasi pengetahuan tersebut dimulai saat era peradaban kuno dan kemunculan rasionalitas pada masa pramasehi (zaman Yunani kuno), masa Plato, Sokrates, Aristoteles, Pythagoras hidup dan lain-lain yang menggunakan logika akal sehat.

Pencarian hakikat

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |