Melihat Gurun Taklimakan yang jadi lokasi proyek sabuk hijau di China

3 hours ago 3

Kashgar (ANTARA) - Di sepanjang tepi selatan Gurun Taklimakan, hamparan penghalang hijau yang subur membentang hingga cakrawala, tempat pohon-pohon buah tumbuh dan hutan penahan pasir berdiri kokoh menahan terpaan pasir gurun, mencerminkan meningkatnya vitalitas ekologis dan ekonomi di Xinjiang selatan, di barat jauh China.

Mulai dari tanaman obat hingga kebun buah yang subur, berbagai inisiatif ini tidak hanya menekan laju penggurunan, tetapi juga menghidupkan industri lokal. Jaringan hijau terintegrasi tersebut, yang merupakan bagian dari proyek sabuk hijau penahan pasir Gurun Taklimakan, telah mengubah lahan yang dahulu tandus menjadi pusat pertumbuhan berkelanjutan.

Di seluruh daerah tersebut, industri berbasis pasir telah berkembang hingga mencakup sekitar 722.000 hektare lahan gurun, menghasilkan nilai output tahunan sebesar 28,975 miliar yuan (1 yuan = Rp2.514) atau sekitar 4,25 miliar dolar AS (1 dolar = Rp17.142).

Sebuah foto drone udara menunjukkan penduduk desa membuat penghalang berbahan erami di Kabupaten Yutian, Daerah Otonomi Xinjiang Uygur di barat laut China, 15 April 2026. ANTARA/Xinhua/Ding Lei
Penduduk desa melakukan transplantasi mawar dan Scutellaria baicalensis, tanaman yang digunakan dalam pengobatan tradisional Cina, dan mereka menggunakan irigasi tetes di Gurun Taklimakan di Kabupaten Yutian, Daerah Otonomi Xinjiang Uygur di barat laut China, 15 April 2026. ANTARA/Xinhua/Ding Lei
Sebuah foto drone yang diambil pada 17 April 2026 menunjukkan alur pembatas tanaman di Kabupaten Makit, Daerah Otonomi Xinjiang Uygur di barat laut. ANTARA/Xinhua/Ding Lei)
Penduduk desa menanam Belamcana chinensis, tanaman yang digunakan dalam pengobatan tradisional Cina, di sebuah kebun mawar di Kabupaten Yutian, Daerah Otonomi Xinjiang Uygur di barat laut, 15 April 2026. ANTARA/Xinhua/Ding Lei

Penduduk desa membuat penghalang kotak-kotak jerami di Kabupaten Yutian, Daerah Otonomi Xinjiang Uygur di barat laut China, 15 April 2026. ANTARA/Xinhua/Ding Lei

Pewarta: Xinhua
Editor: Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |