Kabupaten Tanah Datar (ANTARA) - Masyarakat terdampak bencana banjir bandang di Jorong Duo Koto, Nagari Guguak Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar) menyelenggarakan tradisi shalat 40 hari atau sumbayang 40 hari pada bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah.
"Shalat 40 hari ini sudah dilakukan masyarakat sejak lama, dan tahun ini kami sudah memulainya pada 15 Syakban 1447 Hijriah," kata Imam Masjid Mujahidin, Jorong Duo Koto, Nagari Guguak Malalo, Arjalis (64) di Kabupaten Tanah Datar, Jumat.
Arjalis mengatakan shalat 40 hari sudah menjadi tradisi dan kearifan lokal yang terus dilakukan masyarakat di Ranah Minang, khususnya di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Padang Pariaman.
Selain untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan di bulan Suci Ramadhan, ibadah shalat 40 hari juga ditujukan untuk mengajarkan serta menanamkan kedisiplinan diri agar tepat waktu dalam melaksanakan shalat.
Pada dasarnya, tidak ada perbedaan antara shalat 40 hari dengan salat fardu, termasuk pula untuk niat, gerakan dan bacaan dimana semuanya sama persis dengan shalat berjamaah di hari-hari biasa.
Namun, seseorang yang ingin menunaikan atau mendapat keberkahan salat 40 hari, maka dalam waktu 40 hari berturut-turut ia wajib menunaikan salat fardu secara berjamaah di masjid atau di musala.
Jika dalam prosesnya jamaah terlambat (masbuk) atau tidak mendapatkan gerakan imam ketika membacakan takbiratul ihram di rakaat pertama, maka rangkaian shalat 40 hari yang bersangkutan dianggap gagal, atau tidak terpenuhi.
Masyarakat juga menyakini ibadah atau keutamaan shalat 40 hari lebih tinggi daripada shalat berjamaah pada umumnya. Oleh karena itu, saat bulan Suci Ramadhan biasanya warga berbondong-bondong menunaikannya.
Senada dengan itu, salah seorang jamaah shalat 40 hari di Masjid Mujahidin bernama Jasman (71) mengatakan tradisi itu sudah ia kenal, atau diajari oleh guru mengaji dan orang tuanya sejak masih kecil.
"Sejak saya berusia delapan tahun, saya sudah mulai melaksanakan shalat 40 hari di masjid ini," kata dia.
Baca juga: Periset BRIN sebut ekoteologi jadi solusi trauma ganda pascabencana
Baca juga: Dinkes Aceh Tamiang catat 14.143 kasus ISPA pascabanjir bandang
Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































