Majelis Etik harap surat PTDH Hery Susanto segera dikirim ke Presiden

2 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Majelis Etik Ombudsman RI berharap surat putusan terkait Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) terhadap Ketua Ombudsman RI nonaktif Hery Susanto segera dikirim oleh pimpinan ORI kepada Presiden Subianto.

Ketua Majelis Etik Ombudsman RI Jimly Asshiddiqie mengatakan Presiden beserta Sekretariat Negara sudah menunggu surat tersebut untuk mengeluarkan keputusan presiden (keppres) terkait pemecatan Hery.

"Jangan lama-lama, jangan lagi lelet gitu ya. Nah, itu yang tadi kami tekankan di rapat pleno," ucap Jimly dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

Ia telah menekankan pada pimpinan ORI agar suratnya bisa segera dikirimkan kepada Presiden usai rapat pleno digelar.

Menurut dia, apabila semakin lama keppres terkait Hery keluar, maka publik bisa mempertanyakan dan membandingkan dengan pemberhentian dua pejabat yang juga tersandung kasus dugaan korupsi seperti Silmy Karim serta Dadan Hindayana.

Namun, Jimly menegaskan Silmy beserta Dadan menduduki jabatan yang diisi berdasarkan hak prerogratif presiden sehingga bisa langsung diberhentikan.

Baca juga: Majelis Etik ORI: Hery Susanto lakukan pelanggaran berat kode etik

Sementara ketua Ombudsman RI, kata dia, merupakan jabatan yang diseleksi terlebih dahulu oleh panitia seleksi serta Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI lantaran ORI merupakan lembaga independen.

"Tapi karena Ombudsman ini membutuhkan kepercayaan, pemulihan kepercayaan. Jadi jangan sampai terus melorot demoralisasi kepercayaan publiknya," tutur dia.

Adapun Majelis Etik telah menjatuhkan sanksi kepada Hery berupa Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) lantaran terbukti melakukan pelanggaran berat terhadap kode etik dan kode perilaku Insan Ombudsman Republik Indonesia.

Pelanggaran dimaksud berupa keberpihakan, adanya motif atau kesengajaan, perbuatan berulang, serta memiliki dampak negatif terhadap unit kerja, lembaga/organisasi, negara, dan publik atas pelanggaran yang dilakukan.

Hal tersebut antara lain terkait dengan penetapan Hery Susanto sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi dalam kegiatan tata kelola usaha pertambangan nikel tahun 2013-2025.

Baca juga: Istana hormati putusan majelis etik PTDH ketua Ombudsman Hery Susanto

Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung Syarief Sulaeman Nahdi mengatakan Hery melakukan dugaan tindak pidana ini saat sedang menjabat sebagai anggota Ombudsman RI periode 2021-2026.

"Penetapan tersangka tersebut dilakukan setelah tim penyidik memperoleh bukti yang cukup melalui serangkaian tindakan penyidikan, penggeledahan, dan lain-lain," katanya di Gedung Jampidsus Kejagung, Jakarta, Kamis (16/4).

Dalam kasus itu, Hery diduga menerima uang suap senilai Rp1,5 miliar dari perusahaan PT TSHI, yang bermula ketika PT TSHI memiliki permasalahan penghitungan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) oleh Kementerian Kehutanan.

Kemudian, PT TSHI mencari jalan keluar dengan kongkalikong bersama Hery Susanto selaku Komisioner Ombudsman RI pada saat itu.

Untuk melaksanakan hal tersebut, ujar dia, Hery menerima sejumlah uang dari LKM yang merupakan Direktur PT TSHI.

Baca juga: Majelis Etik: Hery Susanto arahkan program MBG tak boleh 'disentuh'

Baca juga: Majelis etik catat Hery Susanto hadapi 12-14 kasus hukum dan etik

Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Editor: La Ode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |