Nagan Raya (ANTARA) - Sekitar 600 hektare lahan sawah di Kabupaten Nagan Raya, Aceh mengalami kekeringan akibat saluran Irigasi Jeuram mengalami pendangkalan sehingga Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) setempat meminta kepada Balai Pengairan Provinsi Aceh untuk segera melakukan normalisasi saluran itu.
Saluran Irigasi Jeuram (Daerah Irigasi Jeuram) adalah jaringan irigasi yang melayani areal pertanian seluas 12.000 hektare dimana sistem irigasi ini menyuplai air melalui Saluran Induk Seunagan dan sejumlah saluran sekunder seperti Ukam, Kuta Jeumpa Lempe, dan Blang Pui.
“Kami berharap pihak provinsi segera melakukan pengerukan, sehingga dangkal nya irigasi akibat penumpukan sedimen pasir dan lumpur dapat segera teratasi,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Nagan Raya, Marzuki kepada ANTARA, Senin.
Ia mengatakan, dampak dari pendangkalan ini memicu penurunan debit air secara drastis. Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa penanganan cepat, keberlangsungan sektor pertanian di wilayah tersebut terancam lumpuh.
Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh mencatat hingga saat ini sekitar 600 hektare lahan sawah milik petani di Kecamatan Kuala dan Suka Makmue, mengalami kekeringan akibat kemarau.
Ada pun sebaran sawah yang saat ini mengalami kekeringan di Kecamatan Kuala, Kabupaten Nagan Raya, Aceh tersebar di 11 desa/gampong diantaranya Desa Ujong Pasi (105 Ha), Alue Ie Mameh (80,25 Ha), Simpang Peut (76,5 Ha), Blang Muko (73 Ha), Blang Bintang (51,2 Ha).
Kemudian Desa Ujong Patihah (48 Ha), Cot Kumbang (45 Ha), Blang Baro (40 Ha), Kuta Makmue (35 Ha - tadah hujan), serta Ujong Sikuneng (29,5 Ha) dan Pulo Ie (15,75 Ha).
Kekeringan juga terjadi di Kecamatan Suka Makmue, Kabupaten Nagan Raya, Aceh meliputi Desa Seumambek dengan luas lahan kekeringan mencapai 30,34 Ha, serta Desa Macah dengan luasan mencapai 68,38 Ha.
Baca juga: Pertanian Lut Tawar Aceh mandek karena irigasi rusak akibat bencana
Baca juga: BWS percepat pemulihan irigasi Aceh Utara yang rusak pasca-bencana
Marzuki mengatakan kedua desa tersebut termasuk ke dalam kategori lahan sawah tadah hujan, sehingga sangat rentan terhadap musim kemarau karena tidak memiliki sumber air alternatif yang memadai.
"Kami berharap kepada Balai Pengairan Provinsi Aceh agar segera melakukan pembersihan saluran irigasi Jeuram. Debit air yang mengalir saat ini sangatlah kurang karena sudah sangat dangkal akibat sedimen pasir dan lumpur," kata Marzuki menambahkan.
Ia menegaskan, Saluran Irigasi Jeuram, Kabupaten Nagan Raya, Aceh merupakan urat nadi bagi sektor pertanian di daerah tersebut. Irigasi ini menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan air bagi seluruh petani di Kabupaten Nagan Raya dalam menggarap lahan persawahan mereka.
Menurutnya, keterlambatan penanganan penumpukan sedimen ini akan berdampak sistemik pada masa tanam mendatang, terutama dalam proses pengolahan tanah yang membutuhkan pasokan air yang stabil.
Selain mengancam produktivitas pangan daerah, Marzuki juga mengkhawatirkan dampak sosial yang berpotensi muncul akibat krisis air ini. Kelangkaan air di tingkat hilir rawan memicu gesekan dan konflik horizontal di lapangan.
"Jika tidak segera ditangani, maka petani ke depan akan terganggu dalam pengolahan tanah. Bahkan, bisa-bisa sesama petani terjadi keributan di lapangan karena saling berebut untuk memenuhi kebutuhan air sawah mereka," jelasnya.
Pemerintah Kabupaten Nagan Raya berharap pihak provinsi dapat melihat urgensi masalah ini secara serius dan segera menurunkan tim ke lapangan.
Langkah pengerukan sedimen secara menyeluruh diharapkan dapat mengembalikan fungsi optimal Irigasi Jeuram demi menjamin ketahanan pangan dan semangat petani dalam bercocok tanam, demikian Marzuki.
Baca juga: Mentan respon cepat tentang irigasi rusak dan pupuk mahal di Lumajang
Baca juga: Banjir rusak saluran irigasi, 100 hektare sawah terancam kekeringan
Baca juga: Tanggul irigasi rusak parah ratusan hektare sawah sulit dapatakan air
Pewarta: Teuku Dedi Iskandar
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































