Lonjakan harga lahan jadi faktor utama krisis perumahan di Australia

5 days ago 6

Sydney (ANTARA) - Kenaikan harga lahan untuk hunian merupakan faktor utama yang menghambat pembangunan rumah baru di Australia, menurut sebuah laporan industri.

Laporan dari Asosiasi Industri Perumahan (Housing Industry Association/HIA), badan utama yang mewakili industri konstruksi hunian di Australia, menemukan bahwa median harga tanah untuk lahan hunian baru di seluruh negeri telah melonjak 513,6 persen sejak tahun 2000.

Selama periode yang sama, biaya konstruksi dan upah tenaga kerja terampil telah meningkat sekitar 150 persen, papar laporan tersebut.

Laporan itu menyebutkan median harga lahan hunian nasional naik lebih dari 10 persen sepanjang tahun hingga September 2025, tiga kali lipat dari laju inflasi secara keseluruhan.

Kepala Ekonom HIA Tim Reardon mengatakan eskalasi harga rumah di Australia yang telah berlangsung lama ini sebagian besar didorong oleh persoalan lahan.

Ia mengatakan kebijakan pemerintah menyebabkan biaya infrastruktur, keterlambatan, dan proses perencanaan masuk ke dalam harga lahan dan pada akhirnya harus ditanggung oleh para pembeli rumah baru.

"Kelangkaan lahan yang siap dibangun merupakan inti dalam mengatasi tantangan keterjangkauan," ujarnya dalam sebuah siaran pers.

Pemerintah federal, negara bagian, dan wilayah teritori Australia pada 2023 menetapkan target pembangunan 1,2 juta unit rumah baru secara nasional dalam kurun waktu lima tahun, yang dimulai sejak pertengahan 2024.

Dalam laporan tahunannya untuk 2025, Dewan Pasokan dan Keterjangkauan Perumahan Nasional Australia menyebutkan 177.000 hunian baru telah rampung dibangun di seluruh Australia pada 2024, belum memenuhi perkiraan permintaan sebanyak 223.000 unit untuk periode yang sama.

Laporan tersebut memprediksi 938.000 hunian baru akan dibangun di Australia dalam periode lima tahun sejak pertengahan 2024, dengan tidak ada satu pun negara bagian atau wilayah teritori yang diperkirakan mampu memenuhi target nasional yang telah ditetapkan.

Pewarta: Xinhua
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |