Literasi rendah, Mendikdasmen soroti proses belajar yang kurang tepat

3 weeks ago 9

Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyoroti adanya proses belajar mengajar yang kurang tepat menjadi salah satu penyebab kesenjangan literasi dan numerasi yang terdapat pada anak di tingkat pendidikan dasar.

"Kita melihat di lapangan belum seluruhnya proses belajar, terutama (yang) mendasarkan kemampuan untuk membaca dan menulis itu diberikan secara tepat," kata Mendikdasmen dalam peluncuran Program Pencanangan Kolaborasi Multipihak untuk Penguatan Literasi dan Numerasi Nasional di Jakarta, Kamis.

Abdul Mu'ti menilai tak jarang pembelajaran soal membaca bacaan sederhana hanya diberikan sebatas mengikuti apa yang dikatakan oleh guru.

"Sering sekali hal ini dilupakan karena membaca bukan sekadar mengeja guru, tetapi membaca itu adalah kemampuan untuk menalar," ujarnya menegaskan.

Baca juga: Kemendikdasmen pacu penguatan literasi dan numerasi anak di 6 kota

Mendikdasmen menyebutkan kemampuan literasi pada anak bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana, yakni dengan menanamkan rasa cinta anak untuk membaca dan berhitung sejak dini.

Selain itu, lanjut dia, memberikan kebiasaan membaca kepada anak sejak dini juga berpengaruh dalam tingkat kompetensinya dalam membaca.

"Kebiasaan membaca dengan kompetensi membaca ini bisa dua-duanya saling melengkapi, bisa dimulai dari reading habit-nya atau dimulai dari building reading competency. Dua-duanya bisa berjalan, dan itu memang meniscayakan adanya bahan-bahan bacaan dan materi pembelajaran yang menstimulasi anak untuk gemar membaca," ungkap Guru Besar Bidang Pendidikan Agama Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Oleh karena itu, Abdul Mu'ti menyebutkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikdasmen menerbitkan berbagai buku yang menarik agar anak-anak bisa mulai menyukai buku.

"Book engagement dan reading habit serta reading competence itu menjadi satu proses yang sejak awal harus kita tanamkan, dan baru kemudian kita membentuk namanya reading culture atau budaya membaca," ucapnya.

"Dimana-mana mereka ketemu buku, dimana-mana mereka bisa menemukan bahan bacaan. Tentu bahan bacaan tidak harus selalu berupa buku, bisa berupa koran, bisa berupa majalah, atau apapun bahan bacaan yang mendorong dan menstimulasi anak kita ini untuk senantiasa lekat-dekat dan membiasakan diri membaca," tutur Mendikdasmen Abdul Mu'ti.

Baca juga: Mendikdasmen minta matematika tingkat dasar jangan terlalu kompleks

Baca juga: Budaya baca perlu dibangun mulai dari keluarga

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |