KPAI duga anak mengakhiri hidup di Ngada sempat alami kebingungan

1 week ago 7

Jakarta (ANTARA) - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menduga YBR (10), anak yang mengakhiri hidup di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, sempat mengalami kebingungan sebelum memutuskan untuk mengakhiri hidup.

"Ranting pohon cengkeh yang dipakai anak mengakhiri hidup cukup kecil, rendah, namun kokoh. Seolah sebelum memutuskan mengakhiri hidup, anak mengalami kebingungan," kata Anggota KPAI Diyah Puspitarini saat dihubungi di Jakarta, Rabu.

Dalam kunjungan KPAI ke Kabupaten Ngada, pasca terjadinya kasus ini, terungkap beberapa temuan, di antaranya pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP) mengalami kendala karena kebijakan teknis bank.

Kemudian dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang ada belum bisa mencukupi kebutuhan sekolah termasuk menggaji guru honorer, sehingga sekolah akhirnya memungut sumbangan Rp1 juta per anak.

Selain itu, kondisi bangunan sekolah korban dinilai tidak layak sehingga KPAI pun meminta pemerintah untuk merevitalisasi atau merelokasi sekolah.

"Perlu segera revitalisasi atau relokasi sekolah," kata Diyah Puspitarini.

Baca juga: Teman sekelas anak akhiri hidup harus diberi pendampingan psikososial

Sebelumnya, pada Kamis (29/1), YBR (10), seorang siswa kelas 4 SD Negeri di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya.

Selama ini korban tinggal bersama neneknya yang berusia lanjut, sementara ibunya berinisial MGT (47) tinggal di kampung lain bersama dua saudara korban. Sementara dua saudara tiri korban sudah berusia dewasa dan merantau ke Papua dan Kalimantan.

Ibu korban menafkahi lima anak, termasuk korban.

Korban adalah anak bungsu dari lima bersaudara.

Ayah kandungnya pergi merantau saat korban masih di kandungan ibunya, dan hingga kini tak pernah kembali.

Baca juga: Sekolah anak yang mengakhiri hidup pungut sumbangan Rp1 juta per anak

Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |