Beijing (ANTARA) - Beberapa hari menjelang Tahun Baru Imlek, lonjakan tahunan untuk pembelian nianhuo, atau barang-barang liburan, di China memberikan gambaran tentang perekonomian yang sedang mengalami transisi, seiring konsumen muda mengubah permintaan, produk impor masuk dalam daftar belanja rutin, dan program tukar tambah (trade-in) yang didukung pemerintah membuka peluang belanja konsumen baru.
Makna Baru Belanja
Musim belanja menjelang Imlek sudah lama berpusat pada barang-barang pokok seperti kacang-kacangan, kudapan manis, dan minuman.
Namun, formula tersebut berubah seiring konsumen yang lebih muda mendorong permintaan akan produk-produk yang tidak hanya berkaitan dengan tradisi, tetapi juga identitas personal dan daya tarik emosional.
Produk-produk populer selama masa liburan tahun ini meliputi boneka Tahun Kuda dari Pop Mart dan kuplet Imlek bertema kartun yang dipadukan dengan karakter Mandarin "Fu", simbol keberuntungan tradisional. Produk-produk hasil kolaborasi merek yang berkaitan dengan kekayaan intelektual (intellectual property/IP), seperti My Little Pony, juga semakin populer di berbagai kategori, mulai dari makanan ringan dan kosmetik hingga elektronik.
Para pakar menggambarkan pergeseran tersebut sebagai peralihan dari kegiatan "menimbun" barang selama liburan menuju konsumsi yang didorong oleh kesenangan dan ikatan emosional.
Alih-alih hanya berfokus pada simbolisme keberuntungan, barang-barang liburan menjadi lebih personal dan berorientasi pada desain. "Belanja yang ditujukan untuk kepuasan pribadi semakin membentuk transformasi dan peningkatan pasar konsumen," kata Xing Xing, seorang analis industri.
Perusahaan riset pasar, iiMedia Research, memperkirakan bahwa "ekonomi emosi" (emotion economy) akan terus berkembang pesat, dengan skala pasar yang diproyeksikan melampaui 4,5 triliun yuan (1 yuan = Rp2.430) per 2029, menjadikannya sebagai pilar pertumbuhan yang didorong oleh konsumen.
Norma Liburan Baru
Bersama perubahan-perubahan yang didorong oleh konsumen muda, produk impor menjadi bagian yang lebih menonjol dalam belanja liburan. Barang-barang seperti buah-buahan tropis dari Asia Tenggara, gandum dan minyak goreng dari Asia Tengah, dan cokelat Eropa tidak lagi menjadi barang yang dibeli untuk kesenangan dan berubah menjadi opsi rutin.
Kereta kargo China-Eropa pertama yang khusus mengangkut barang-barang untuk masa liburan tahun 2026 tiba di Xi'an, ibu kota Provinsi Shaanxi, China barat laut, pada 21 Januari, membawa minyak goreng dan madu dari Kazakhstan.
Di Pingxiang, sebuah pusat perdagangan perbatasan di Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan, pasar buah memasuki musim puncak dengan kedatangan buah-buahan impor termasuk durian dan pomelo. Data resmi menunjukkan bahwa impor buah di China meningkat stabil tahun lalu, dengan impor durian segar mencapai 7,49 miliar dolar AS, terutama dari Thailand dan Vietnam.
Sementara itu, pameran-pameran nianhuo internasional diselenggarakan di berbagai kota, termasuk Beijing dan Shanghai, sehingga produk luar negeri menjadi lebih mudah diakses oleh konsumen lokal.
Dengan perluasan jalur kereta kargo, penerbangan internasional, dan e-commerce lintas perbatasan, Qu Xiaodong, seorang associate researcher di Akademi Ilmu Sosial Shaanxi, mengatakan bahwa barang-barang impor telah menjadi bagian yang lebih umum dari kehidupan sehari-hari masyarakat China.
Qu menambahkan bahwa peralihan tersebut mencerminkan upaya keterbukaan China, yang ditandai dengan peluang pasar yang lebih luas, rantai pasokan yang lebih stabil, dan lingkungan bisnis internasional.
Menurut para analis, popularitas barang-barang liburan impor menunjukkan meningkatnya permintaan akan keberagaman di kalangan konsumen China serta dorongan berkelanjutan negara tersebut untuk memperluas keterbukaan berstandar tinggi, yang menawarkan akses lebih besar ke pasar domestik kepada pemasok asing.
Membuka Permintaan Domestik
Elemen penting lainnya dari musim belanja Imlek yang sedang berlangsung adalah dorongan dari program tukar tambah barang konsumen.
Pada 2026, perluasan subsidi pemerintah yang mendorong penggantian mobil, peralatan rumah tangga, dan perangkat digital lama telah secara signifikan mendongkrak sentimen konsumen.
Di sebuah gerai JD Mall di Kota Chongqing, China barat daya, manajer toko, Dai Lei, mengatakan bahwa kunjungan pelanggan pada Januari meningkat 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara penjualan naik 40 persen.
"Kacamata pintar ditambahkan ke dalam program subsidi nasional untuk pertama kalinya tahun ini, mendorong lebih banyak konsumen untuk mencoba produk tersebut di toko dan meningkatkan penjualan di seluruh kategori terkait," kata Dai.
Data dari Kementerian Perdagangan China menunjukkan bahwa pada Januari, penjualan peralatan rumah tangga dan produk digital di bawah program subsidi tersebut melampaui 15 juta unit, dengan total pendapatan hampir 59 miliar yuan.
Selain meningkatkan penjualan ritel, program subsidi tersebut juga mendukung sektor-sektor terkait lainnya seperti kuliner dan hiburan dengan menarik kembali pembeli ke ruang ritel fisik.
Para ekonom mengatakan bahwa dampak jangka panjang program subsidi tersebut menyoroti potensi besar pasar domestik China. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi akan memainkan peran yang semakin penting dalam mendorong pertumbuhan dan transformasi ekonomi.
Pewarta: Xinhua
Editor: Ade irma Junida
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































