Denpasar (ANTARA) - Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (Kawiya) Bali menyulap kritik sosial atas kondisi hari ini di Bali menjadi sebuah pementasan teater moderen dalam peringatan Bulan Bahasa Bali 2026.
“Kami mengaitkan kondisi sosial hari ini dengan tema Bulan Bahasa Bali yaitu Atma Kerthi dengan mengambil mitologi Jaratkaru, sosok yang melegenda yang diminta menikah demi menyelamatkan leluhurnya yang digantung karena tidak memiliki keturunan,” ucap Ketua Kawiya Bali I Putu Suryadi.
Suryadi di Denpasar, Senin, menjelaskan jika ditarik pada kondisi hari ini, figur Jaratkaru memberi pesan akan adanya hutang yang perlu dibayar manusia demi menyelamatkan leluhurnya.
Hutang ini meninggalkan jejak sosial yang akhirnya membentuk hidup generasi berikutnya hari ini, ada tanggung jawab berulang yang harus dipikul, bertemu dengan beban untuk bertahan hidup.
Wartawan atau pekerja media yang sehari-hari merekam fenomena di masyarakat menemukan adanya kaitan antara kondisi Bali saat ini seperti beratnya ekonomi, kemacetan, alih fungsi lahan, persoalan sampah, hingga banjir, dengan hutang yang mau tidak mau ditanggung generasi muda penerus.
Baca juga: Pemkab Gianyar tekankan pentingnya konservasi bahasa Bali
“Alih-alih memposisikan mitos sebagai cerita masa lalu, pertunjukan ini memperlakukannya sebagai resonansi atas realitas kontemporer, kisah tentang leluhur yang menggantung bertemu dengan cerita tentang banjir, kemacetan, dan tubuh-tubuh yang terus bergerak untuk bertahan hidup,” ujar Suryadi.
Panggung Bulan Bahasa Bali yang memberi ruang bagi aktivitas seni budaya kemudian disulap menjadi ruang kritik sosial yang ternyata memiliki kaitan dengan mitologi Bali.
Suryadi menyampaikan pada kesempatan ini Kawiya Bali menampilkan empat aktor yang menari dan menuturkan keluh kesah generasi muda yang menjalankan kehidupan hari ini sambil dicekoki penuturan kisah Jaratkaru.
Di sela pertunjukan, belasan wartawan muncul bersautan membacakan berita berbahasa bali berisi realitas sosial di Pulau Dewata sambil berjalan mengelilingi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali.
“Ini untuk mengajak penonton masuk dalam cerita, menyadarkan bahwa semua kondisi ini nyata dan dipotret oleh teman-teman media,” ucap Suryadi.
Baca juga: Pemprov jadikan Bulan Bahasa Bali wahana jaga generasi penerus
Atas penampilan tersebut, Ketua TP PKK Bali Putri Suastini Koster menyampaikan apresiasi karena profesi wartawan di Bali ikut mengambil peran dalam melestarikan seni dan budaya.
Pendamping Gubernur Bali Wayan Koster itu melihat penyampaian kritik sosial melalui pertunjukan seni dibalut berita-berita hasil peliputan di lapangan adalah metode baru yang lebih moderen.
“Saya lihat luar biasa antara teori dengan kemampuan di panggung, konsepnya saya lihat dengan jelas, ini mengajak kita jangan takut menyampaikan protes asal beretika, misalnya macet jabarkan saja ribut lah di atas panggung iris setajam silet,” ujarnya.
Dengan begitu, Putri Koster menilai ke depan generasi muda akan lebih terpacu untuk mengkritisi pemerintah dengan cara yang baik, didukung karya-karya jurnalistik yang mencerahkan.
Baca juga: UNAS ajak pemuda cintai bahasa dan budaya lewat Festival Bulan Bahasa
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































