Kokohnya surau kami

6 days ago 7
Mereka menolak roboh dan tetap berdiri kokoh di tengah cobaan

Aceh Tengah (ANTARA) - Pada tahun 1956, sastrawan Ali Akbar Navis atau yang lebih dikenal dengan nama penanya AA Navis menggebrak panggung sastra Indonesia lewat cerita pendeknya berjudul Robohnya Surau Kami.

Cerpen ini kemudian menjadi salah satu karya monumental dalam sejarah sastra Indonesia dan menjadi perbincangan hingga saat ini.

Robohnya Surau Kami kini berusia 60 tahun, namun terus menjadi bahan refleksi dan diskusi baik di panggung akademisi atau dialog-dialog komunitas sastra.

Mengapa cerpen itu bisa relevan hingga masa kini? Satu kesimpulan yang pasti, AA Navis berhasil memotret wajah Indonesia di masa tersebut dengan penuh kegetiran.

Robohnya Surau Kami bercerita mengenai kisah seorang muadzin di sebuah surau kecil yang dipanggil kakek.

Kakek selama hidupnya selalu berbuat lurus mengikuti ajaran agama Islam. Tak pernah meninggalkan shalat. Berbuat jahat kepada sesama pun tak pernah dilakukan oleh kakek.

Problema muncul ketika Ajo Sidi membual bahwa surga belum tentu jadi milik kakek meski sudah taat beribadah dan membaktikan seluruh hidupnya sebagai penjaga surau.

Bualan itu menggentayangi pikiran kakek hingga membuatnya menggorok leher karena tak kuasa menahan realitas semu karangan Ajo Sidi.

AA Navis sepertinya mengkritisi lanskap sosial pada masa tersebut mengenai fanatisme beragama hingga melupakan tanggung jawab sosial.

Isu yang diangkat sastrawan asal Padang ini masih relevan hingga masa kini. Bagaimana manusia mencari eksistensinya untuk mendekatkan diri dengan tuhan.

Potret tersebut diamini oleh Imam Hamka, penyintas bencana banjir Sumatera.

Tanpa memproklamirkan dirinya berilmu, seperti kebanyakan orang-orang masa kini yang ingin bereksistensi dengan pamer pengetahuan di media sosial, Imam Hamka memilih jalan sunyi. Jalan sunyi bernama pengabdian.

Penyintas bencana Imam Hamka membersihkan surau Miftahul Jannah di kampung Toweren Uken, Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, Selasa (17/02/2026). (ANTARA/FAJAR SATRIYO)

Imam Hamka dan surau

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |