KKP dukung budi daya ikan bioflok untuk pemberdayaan desa

1 hour ago 3

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong pengembangan budi daya ikan dengan sistem bioflok sebagai upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat desa melalui kolaborasi dengan koperasi desa merah putih (KDMP).

Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP Tb Haeru Rahayu, dalam siaran pers di Jakarta, Rabu, mengatakan panen ikan lele bioflok di Desa Mekarsari, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, dapat menjadi contoh pengembangan ekonomi masyarakat berbasis perikanan budi daya.

Menurut Haeru, sistem bioflok bukan sekadar teknologi budi daya, tetapi juga bentuk inovasi yang mampu menjawab tantangan efisiensi usaha perikanan saat ini.

Sistem bioflok juga dinilai lebih efisien karena hemat penggunaan air, pakan, dan tidak membutuhkan lahan luas.

"Air hanya dimasukkan di awal hingga masa panen, penambahan dilakukan kalau memang diperlukan saja. Selain hemat pakan, sistem ini juga tidak butuh lahan luas dan efisien dalam penggunaan air," ujarnya.

Haeru mengatakan program budi daya bioflok menjadi bagian dari upaya pemerintah mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Ia menambahkan penerapan cara budi daya ikan yang baik (CBIB) juga terus didorong agar produk perikanan yang dihasilkan memiliki kualitas baik, aman dikonsumsi, dan berdaya saing di pasar.

"Program ini kami titipkan sebagai modal kerja awal masyarakat. Harapannya, bisa terus berkembang dan bergulir secara mandiri untuk mendukung peningkatan ekonomi masyarakat serta mendukung program makan bergizi gratis," katanya.

KKP telah mengembangkan program budi daya bioflok di 100 titik yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Sementara itu, Ketua Unit Perikanan, Peternakan, dan Pangan Koperasi Merah Putih Desa Mekarsari, Kabupaten Bandung Barat, Elpan mengatakan budi daya bioflok memberi alternatif usaha bagi masyarakat sekitar Waduk Saguling yang sebelumnya bergantung pada keramba jaring apung (KJA).

"Dengan hadirnya bioflok ini menjadi solusi untuk masyarakat. Risiko kematian ikan lebih rendah dan pengelolaannya lebih bisa dikontrol," kata Elpan.

Ia mengatakan berencana mengembangkan produk olahan ikan seperti abon, filet, dan kerupuk guna memperluas pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.

Baca juga: Indonesia bangun 1.582 kapal ikan baru bertahap hingga 2028

Baca juga: Modernisasi kapal ikan yang berkeadilan

Baca juga: KKP buka rekrutmen 20 ribu awak kapal perikanan modern

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |