Kisah Biokong Muslim di Vihara Amurva Bhumi

6 days ago 6

Jakarta (ANTARA) - Di tengah suasana perayaan Tahun Baru Imlek yang meriah, aktivitas di Vihara Amurva Bhumi, Setiabudi, Jakarta Selatan berlangsung khidmat sekaligus hangat. Umat datang bergantian untuk bersembahyang, sementara para pengurus memastikan semua berjalan lancar.

Di balik kesibukannya, ada sosok Zaini Arifin yang merupakan seorang Biokong atau pengurus harian vihara yang menarik perhatian karena latar belakangnya sebagai Muslim yang telah mengabdi selama 15 tahun di tempat ibadah tersebut.

Saat ditemui di sela kegiatan Imlek, Zaini tampak sibuk namun tetap ramah menjawab pertanyaan pewawancara. Ketika ditanya mengenai persiapan yang sudah dilakukan, ia mengatakan sudah memandikan rupang atau patung Dewa suci di vihara, yang dibersihkan sebagai bagian dari rangkaian persiapan perayaan.

Sebagai pengurus harian, Zaini menjelaskan perannya sebagai Biokong, yang ia analogikan dengan posisi marbot di masjid.

Perjalanan Zaini menjadi biokong berawal dari dunia kuliner. Sebelum bekerja di vihara, ia adalah seorang koki di restoran masakan Chinese food.

"Awalnya bos yang bawa. Dulu kan saya masak di restoran Chinese food, terus disuruh masak di vihara,” katanya.

Sejak saat itu, kehidupannya berubah. Ia tidak hanya memasak, tetapi juga ikut memahami tata cara ibadah dan tradisi umat beragama lain dan latar belakang berbeda.

Meski beragama Islam, Zaini mengaku banyak mendapatkan pengalaman berharga selama bekerja di vihara.

"Bisa melayani umat-umat Buddha. Bisa tahu tradisi agama Buddha, Tionghoa gitu. Dan tata cara sembahyang juga diajarin," ucapnya.

Kehadiran Zaini juga menjadi gambaran nyata tentang toleransi beragama di tengah masyarakat urban. Ia tinggal di vihara dan setiap hari berada di sana untuk memastikan operasional berjalan lancar.

Pengunjung vihara datang dari berbagai daerah, mulai dari sekitar Jakarta hingga luar kota seperti Bandung, Cirebon, hingga kawasan Petak Sembilan.

Selain mengurus operasional, Zaini juga bertanggung jawab menyiapkan makanan bagi umat dan pengurus yang menjadi daya tarik tersendiri.

Saat perayaan Imlek, salah satu menu andalan adalah Lomie Karet. “Kalau hari H-nya Imlek, Lomie Karet,” katanya.

Sementara untuk momen tertentu lainnya, hidangan khas vihara berupa nasi uduk, semur tahu, semur telur, bihun goreng, hingga bala-bala disajikan.

Suasana perayaan Imlek 2577 Kongzili di Vihara Amurva Bhumi, Zaini Arifin memberikan keterangan kepada wartawan, Jakarta, Selasa (17/2/2026). ANTARA/Luthfia Miranda Putri.

Tahun ini, perayaan Imlek berlangsung berdekatan dengan bulan Ramadhan. Sebagai seorang Muslim sekaligus koki di vihara, Zaini menghadapi tantangan tersendiri. Ia mengaku tetap berniat menjalankan ibadah puasa, meski pekerjaannya sering menuntutnya mencicipi masakan.

Namun ia juga realistis dengan kondisi pekerjaannya. “Kayaknya nggak bisa, paling buka pertama doang. Soalnya kan kerjaan saya banyak.”

Di usia 38 tahun, Zaini telah menghabiskan sebagian besar hidup dewasanya di lingkungan vihara. Dedikasinya membuat ia tidak sekadar menjadi pekerja, melainkan bagian dari kehidupan komunitas.

Kisah Zaini memperlihatkan bagaimana ruang ibadah tidak hanya menjadi tempat spiritual, tetapi juga ruang perjumpaan antar manusia dari latar belakang berbeda.

Dalam keseharian, ia menjalani peran sebagai penghubung praktis antara kebutuhan umat, tradisi budaya, dan kegiatan operasional vihara. Ia memasak, melayani, membersihkan, sekaligus menjaga suasana tetap nyaman bagi para pengunjung.

Di tengah suasana perayaan yang penuh simbol keberuntungan dan harapan baru, keberadaan Zaini menjadi cerminan sederhana namun kuat tentang keberagaman Indonesia.

Tanpa banyak kata, ia menjalani keseharian dengan sikap saling menghormati antar umat beragama.

Arifin menjadi bukti bahwa seorang Muslim dapat bekerja dengan sepenuh hati di vihara selama belasan tahun sambil tetap menjaga keyakinannya.

Di antara aroma masakan, denting doa, dan hiruk-pikuk perayaan, kisahnya menjadi pengingat bahwa keberagaman bisa hadir dalam bentuk sehari-hari.

Di Vihara Amurva Bhumi, kisah itu terus berlangsung setiap hari selama 24 jam, seperti pintu vihara yang tetap terbuka bagi siapa saja yang datang.

Baca juga: Rayakan Imlek, Vihara Toa Se Bio dipadati ratusan pengunjung

Baca juga: Vihara Dharma Bakti Jakbar berlakukan sistem bergantian

Baca juga: Petugas kewalahan tertibkan PPKS di depan Vihara Dharma Bakti

Halaman Selanjutnya: Sambut Imlek di Jakarta Selatan

Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |