Tokyo (ANTARA) - Partai berkuasa Korea Utara memilih kembali Kim Jong Un sebagai sekretaris jenderal dalam kongres penting yang digelar setiap lima tahun, dengan menyoroti sejumlah pencapaiannya, termasuk peningkatan kekuatan nuklir negara tersebut, lapor media pemerintah, Senin (23/2).
Keputusan itu diambil secara bulat, Minggu (22/2), pada hari ke-empat sidang kongres, menurut Kantor Berita Pusat Korea (Korean Central News Agency/KCNA).
Dalam pertemuan Partai Pekerja Korea (Workers' Party of Korea/WPK) sebelumnya, pada Januari 2021, Kim Jong Un yang saat itu menjabat sebagai ketua mengambil alih jabatan tertinggi dari mendiang ayahnya Kim Jong Il, yang wafat pada Desember 2011.
Kim Jong Il kemudian secara anumerta diberi gelar sekretaris jenderal abadi partai berkuasa pada April 2012, sementara gelar baru sebagai ketua dianugerahkan kepada Kim Jong Un pada Mei 2016.
Dalam kongres 2021, partai menghidupkan kembali jabatan sekretaris jenderal sebagai posisi tertinggi menggantikan ketua.
Presiden China Xi Jinping, Senin (23/2) menyampaikan ucapan selamat kepada pemimpin Korea Utara tersebut atas terpilihnya kembali dan menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama guna “menulis babak baru” dalam hubungan bilateral, lapor Kantor Berita China, Xinhua.
Dalam pengumuman keputusan kongres terbaru, KCNA menyatakan bahwa "kemampuan pencegahan perang dengan menjadikan tenaga nuklir sebagai intinya telah meningkat secara signifikan" di bawah kepemimpinan pemimpin tertinggi.
Kim juga disebut telah “mencapai keberhasilan berharga” dalam melaksanakan rencana pembangunan ekonomi nasional lima tahun, serta menetapkan kebijakan untuk “pengembangan stabil ekonomi mandiri,” tambah kantor berita tersebut.
“Dengan prinsip revolusioner yang kuat dan strategi luar biasa serta melalui aktivitas eksternal yang matang, Kim Jong Un secara nyata telah meningkatkan martabat dan kehormatan Republik Rakyat Demokratik Korea (Democratic People’s Republic of Korea/DPRK, nama resmi Korut) serta menciptakan lingkungan internasional yang kondusif bagi revolusi Korea,” demikian laporan tersebut.
KCNA menyebut Kim telah menjadikan militer negara itu sebagai “tentara elit dan kuat” yang “mampu menghadapi ancaman agresi apa pun atas inisiatif sendiri dan sepenuhnya siap untuk segala bentuk perang.”
Ri Il Hwan, pejabat senior partai yang mengusulkan pemilihan kembali Kim sebagai sekretaris jenderal, memuji keputusan pemimpin tersebut untuk mengirim pasukan Korea Utara membantu Rusia dalam perang melawan Ukraina.
Ia mengatakan pasukan yang membantu Rusia itu “mengibarkan bendera kemenangan di medan perang asing” dan menunjukkan kepada dunia “martabat sejati” mereka.
Hanya Kim yang dapat menjaga perdamaian warga negara “di dunia yang keras ini di mana keadilan dan hukum diinjak-injak secara brutal, serta hukum rimba dan kekerasan merajalela,” demikian Ri dikutip KCNA.
Pertemuan penting tersebut juga memilih anggota Komite Sentral partai dan merevisi aturan partai. Kongres itu diperkirakan menetapkan arah kebijakan negara untuk lima tahun ke depan, mencakup bidang ekonomi, hubungan luar negeri, dan pertahanan.
Ketua parlemen Korea Utara Choe Ryong Hae, penasihat pertahanan partai Ri Pyong Chol, dan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat partai Pak Jong Chon tidak tercantum dalam daftar keanggotaan, kemungkinan karena faktor usia lanjut.
Sumber: Kyodo-OANA
Baca juga: Korut uji rudal hipersonik, Kim Jong Un singgung aksi AS di Venezuela
Baca juga: Korut serukan sikap teguh lawan tekanan Barat demi dunia multipolar
Penerjemah: Nabil Ihsan
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































