Jakarta (ANTARA) - Desainer ruangan Melina Ardianti Hadiatmodjo menyampaikan kiat menata ruangan kerja di rumah yang kembali tren menyusul penetapan pola kerja fleksibel "Work from Home" (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap Jumat.
"Tidak semua orang punya ruangan khusus untuk bekerja, dan itu wajar. Yang penting adalah menemukan titik di rumah yang benar-benar membantu kamu fokus," ujar Melina dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Rabu.
Melina menyarankan pekerja untuk memperhatikan kenyamanan jangka panjang. Pekerja sebaiknya tidak melakukan aktivitas kantor di atas tempat tidur karena khawatir posisi tersebut dapat memicu rasa kantuk.
Pekerja dapat menggunakan penopang bantal (cushion) atau meja lipat untuk menjaga postur.
Pengaturan posisi duduk itu mencegah tubuh mudah lelah.
Baca juga: Lima aplikasi penunjang pekerjaan selama masa WFH
Pekerja dapat menggunakan sofa atau lantai selama terdapat penopang punggung. Pijakan kaki sederhana juga membantu tubuh tetap rileks.
Adapun cahaya alami merupakan pilihan terbaik untuk membantu meningkatkan konsentrasi di area kerja.
"Sudut kecil dengan pencahayaan tepat bisa berfungsi seefektif meja kantor, area gelap perlu tambahan lampu meja untuk membantu konsentrasi mata. Pencahayaan tepat membangun suasana kerja yang lebih tenang," kata Melina.
Bila bekerja di area terbuka seperti teras, pilih waktu yang lebih sepi. Informasikan jadwal rapat daring pada anggota keluarga lain. Pendekatan seperti itu dapat membuat alur kerja lebih lancar tanpa harus mengubah tata rumah.
Lebih lanjut, kata Melina, banyak rumah menggabungkan ruang makan, ruang keluarga, dan ruang kerja dalam satu area besar.
Ia mengatakan pembeda kecil dapat membantu otak saat harus “ganti mode” dari santai ke "mode bekerja" dan sebaliknya.
Baca juga: Lima kiat agar konektivitas tetap lancar saat jalani WFH
Karpet kecil, meja lipat, atau bahkan perubahan arah duduk bisa membantu memberi batas visual tersebut.
Bila semua ruangan terasa menyatu, kunci utamanya adalah ritual bereskan alat kerja setiap selesai. "Ini kiat sederhana, tapi sangat membantu memisahkan waktu kerja dan waktu pribadi," kata Melina.
Area terbatas harus mudah dibereskan agar hunian tetap terasa nyaman.
Kerapian meja dapat memengaruhi konsentrasi, menurut Melina.
Ia menyarankan penggunaan wadah penyimpanan portabel agar dokumen tidak berserakan. Meja yang rapi membantu mengurangi lelah visual pada pekerja.
Selain itu, Melina menyarankan pengelolaan kebisingan rumah menggunakan karpet atau tirai tebal.
Penyuara jemala (headset) dengan fitur (noise cancelling) membantu kelancaran rapat daring. Hal ini merespons kondisi rumah yang tidak selalu tenang.
Pekerja perlu membangun rutinitas kecil sebagai penanda awal dan akhir waktu kerja. Contohnya adalah menata meja selama satu menit sebelum mulai, membuat minuman favorit, atau memutar playlist tertentu sebagai sinyal “hari kerja dimulai”.
Setelah selesai bekerja, ia menyarankan rutinitas simpan alat kerja, matikan lampu meja, atau berpindah ke ruangan lain agar tubuh dan pikiran ikut “ganti mode”.
"Rutinitas tidak perlu rumit, yang penting konsisten dan mengikuti ritme alami sehari-hari," kata Melina.
Baca juga: HIPMI nilai WFH sebagai langkah adaptif hadapi tekanan harga energi
Baca juga: ASN DKI dilarang kerja dari kafe saat WFH
Baca juga: Mendagri terbitkan SE atur ketentuan WFH ASN pemda
Pewarta: Abdu Faisal
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































