Khofifah tekankan empati dan regulasi layanan ke PPIH Surabaya

1 day ago 2

Surabaya (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menekankan penguatan empati, kecakapan teknis, serta pemahaman regulasi kepada Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) kloter Embarkasi Surabaya guna menjamin pelayanan bermartabat bagi jamaah haji lintas provinsi.

“PPIH memiliki peran yang sangat strategis sekaligus garda terdepan mendampingi jamaah haji secara langsung di lapangan,” kata Khofifah saat pembukaan diklat PPIH kloter Embarkasi Surabaya Tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi di Asrama Haji Surabaya, Rabu.

Khofifah menyatakan besarnya jumlah jamaah haji asal Jawa Timur menuntut kesiapan petugas yang tidak hanya memahami teknis penyelenggaraan, tetapi juga memiliki kepekaan dan empati dalam memberikan pelayanan.

“Ada tanggung jawab moral yang besar untuk memastikan setiap jamaah mendapatkan pelayanan bermartabat sejak keberangkatan, pelaksanaan ibadah hingga kembali ke tanah air,” ujarnya.

Ia menilai tantangan penyelenggaraan ibadah haji semakin kompleks sehingga membutuhkan profesionalisme, komunikasi efektif, serta koordinasi yang solid antarpetugas.

Baca juga: Bertemu ormas Islam, Prabowo jelaskan soal kampung haji hingga LPDU

Menurut Khofifah, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya mengemban tugas berskala nasional karena melayani jemoaah tidak hanya dari Jawa Timur, tetapi juga dari Provinsi Bali dan Nusa Tenggara Timur.

“Saya berharap bapak dan ibu tidak hanya dibekali kecakapan teknis dan pemahaman regulasi, tetapi juga diperkaya dengan kepekaan, empati, serta kemampuan bekerja dalam tim,” katanya.

Khofifah juga menyoroti pentingnya penguatan kompetensi fiqhunisa bagi petugas PPIH kloter guna mendampingi jamaah perempuan, khususnya mereka yang berada pada usia subur.

“Pada posisi ini menambahkan keilmuan dari petugas PPIH kloter terkait fighunisa yang menurut saya sangat penting,” katanya.

Ia mendorong penyediaan buku pegangan manasik haji yang memuat materi fiqhun nisa untuk menambah pemahaman petugas dalam memberikan pendampingan kepada jemaah perempuan.

“Karena bagi perempuan usia subur yang menjalani haid saat haji sering ragu kapan saat harus bersuci,” ujarnya.

Khofifah mengapresiasi pelaksanaan diklat yang dilakukan lebih awal karena memberi waktu lebih panjang untuk penguatan kompetensi dan koordinasi antarkloter.

Ia berharap seluruh peserta Diklat PPIH Kloter Embarkasi Surabaya diberi kelancaran dan kemudahan dalam menjalankan tugas pelayanan kepada jamaah haji.

“Semoga setiap ikhtiar dan usaha dalam pelayanan yang diberikan kepada jamaah haji dibalas oleh Allah SWT dengan pahala kebaikan yang berlipat, keberkahan hidup, serta kemuliaan di dunia dan di akhirat,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Puji Raharjo meminta peserta diklat memanfaatkan pelatihan selama 10 hari untuk menguasai tugas masing-masing agar pelayanan di lapangan berjalan profesional dan berintegritas.

“Disiplin merupakan pondasi dan cermin negara melayani tamu Allah,” kata Puji Raharjo.

Baca juga: Kemenhaj akan "sulap" lobi hotel jamaah haji jadi gerai kuliner

Pewarta: Willi Irawan
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |