Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai selama satu abad Nahdlatul Ulama menunjukkan kontribusi yang konsisten dalam pembangunan peradaban bangsa.
Khofifah seusai pelaksanaan Mujahadah Kubro Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur, Minggu, mengatakan organisasi yang berdiri pada 1926 itu memiliki peran sentral pembangunan bangsa, salah satunya melalui sektor pendidikan pesantren.
"Banyak pesantren sebagai tempat bertumbuh, mengembangkan peradaban, membekali pribadi-pribadi dengan ilmu pengetahuan dan ilmu agama," kata Khofifah.
Pesantren di bawah naungan Nahdlatul Ulama tidak hanya fokus pada keilmuan dan keagamaan, tetapi mencakup upaya membentuk karakter anak bangsa yang tangguh dan bertoleransi.
Oleh karena itu, organisasi tersebut kini telah tumbuh menjadi rumah besar umat yang memberdayakan dan mengayomi masyarakat dari berbagai latar belakang.
Semangat Islam moderasi yang terus dirawat NU dinilainya menjadi perekat dalam keberagaman Indonesia.
"Nahdlatul Ulama terbuka dengan banyak hal, teguh menjaga tradisi dan mengedepankan rahmatan lil alamin," ucap dia.
Baca juga: PWNU Jatim: Mujahadah Kubro pererat persatuan jaga keutuhan NKRI
Khofifah mengemukakan pelaksanaan Mujahadah Kubro Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama yang mengacu pada perhitungan kalender masehi mampu menjadikan organisasi itu memasuki fase penting dalam merawat dan melanjutkan warisan perjuangan para pendirinya.
"Nahdlatul Ulama menjadi wadah kekuatan besar dan strategis bagi bangsa Indonesia," ucapnya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menegaskan agenda 1 Abad Nahdlatul Ulama bisa berjalan sukses lantaran dukungan dari banyak pihak, seperti Muhammadiyah, lembaga pendidikan, hingga masyarakat lintas agama.
Gus Kikin mencontohkan pengurus Muhammadiyah di Kota Malang menyiapkan sebanyak 10 ribu porsi makanan bagi para peserta Mujahadah Kubro.
Lalu, banyak sekolah di sekitaran Stadion Gajayana menyediakan ruang untuk kebutuhan transit para peserta.
"Para pengurus gereja juga membuka pintu dan menyediakan fasilitasnya bagi warga NU. Bahkan dengan penuh arif dan toleran menggeser waktu kebaktian dari jadwal seharusnya," ujar dia.
Gus Kikin menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu kesuksesan acara, sekaligus menunjukkan semangat gotong royong dan toleransi.
"Saya mewakili warga NU di Jawa Timur menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat Malang dan mohon maaf atas adanya gangguan yang menimbulkan ketidaknyamanan dalam beberapa hari ini," tutur Gus Kikin.
Baca juga: Ketua PP Fatayat NU: Perempuan muslim harus jadi arsitek perubahan
Pewarta: Ananto Pradana
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































