Kepala HAM PBB singgung kasus Epstein terkait kekerasan perempuan

2 weeks ago 13

Istanbul (ANTARA) - Kepala hak asasi manusia (HAM) PBB, Volker Turk, Jumat (28/2) mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk memperkuat akuntabilitas atas kejahatan terhadap perempuan dan memperingatkan bahwa struktur kekuasaan yang mengakar masih melindungi para pelaku, kekhawatiran yang ia garis bawahi dengan merujuk pada skandal Jeffrey Epstein.

Berbicara di hadapan UN Human Rights Council di Jenewa, Turk mendorong negara-negara untuk menyelidiki sepenuhnya tuduhan pelecehan, melindungi korban, serta memastikan sistem peradilan yang independen dan tidak memihak. Ia juga memperingatkan bahwa serangan terhadap perempuan, khususnya secara daring, semakin meningkat.

Ia mengaitkan kekhawatiran tersebut dengan dengar pendapat di Kongres Amerika Serikat (AS) yang meneliti jaringan di sekitar Epstein, pelaku kejahatan seksual yang telah divonis dan kini telah meninggal dunia. Menurutnya, kasus-kasus menonjol mengungkap kegagalan sistemik yang lebih luas, bukan sekadar pelanggaran terpisah.

“Apakah ada yang berpikir tidak banyak pria lain seperti Dominique Pellicot atau Jeffrey Epstein?” ujar Turk kepada para delegasi, merujuk pada Gisele Pellicot, perempuan Prancis yang dibius oleh suaminya dan diperkosa oleh puluhan pria selama periode sembilan tahun.

Turk mengatakan kekerasan terus berlanjut karena “pelecehan mengerikan semacam itu dimungkinkan oleh sistem sosial yang membungkam perempuan dan anak perempuan serta melindungi pria-pria berkuasa dari pertanggungjawaban.”

Menyoroti besarnya krisis, ia mengutip data PBB yang menunjukkan bahwa 50.000 perempuan dan anak perempuan terbunuh di seluruh dunia pada 2024, sebagian besar oleh anggota keluarga. Ia menggambarkan kekerasan terhadap perempuan, termasuk femisida, sebagai keadaan darurat global.

Komisaris tinggi tersebut juga memperingatkan meningkatnya permusuhan terhadap pemimpin perempuan. Ia mengatakan kepada dewan bahwa “setiap politisi perempuan yang saya temui mengatakan mereka menghadapi misogini dan kebencian daring secara terus-menerus.” tambah Turk.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Inggris tekankan hak dan partisipasi perempuan tak boleh mundur

Baca juga: China dorong pemberdayaan perempuan lewat kesetaraan dan ketangguhan

Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |