Jakarta (ANTARA) - Kementerian Sosial mendorong penguatan gerakan infak pendidikan berbasis gotong royong masyarakat sebagai solusi konkret bagi keluarga prasejahtera agar dapat keluar dari jerat kemiskinan, sebagaimana spirit program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto.
"Pendidikan adalah jalan memutus materi kemiskinan. Gerakan infak pendidikan merupakan langkah nyata untuk membangun kemandirian bangsa," kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis.
Gerakan infak pendidikan ini juga menjadi poin utama yang disosialisasikan Menteri Sosial Saifullah dalam peluncuran Program Nahdlatul Ulama (NU) Peduli Pendidikan PWNU Jawa Tengah kerjasama antara LP Ma'arif NU PWNU Jawa Tengah, LAZISNU PWNU Jawa Tengah, dan Bank Jateng Syariah.
Dalam kesempatan itu, ia menyoroti data bahwa 65 persen keluarga tidak mampu berpotensi melahirkan generasi berikutnya dalam kondisi ekonomi yang serupa sehingga pemberian beasiswa harus dibarengi dengan pendampingan dan evaluasi berkelanjutan agar siswa mampu menjadi agen perubahan.
"Infak pendidikan tentu pada akhirnya adalah membangun kemandirian. Jika mereka lulus dan ingin ke perguruan tinggi, kita carikan beasiswa. Jika ingin menjadi pekerja terampil, kita fasilitasi pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan industri," ujarnya.
Baca juga: Muhammadiyah canangkan gerakan infak pendidikan dalam milad ke-111
Dia memastikan bahwa tata kelola dana pendidikan yang transparan dan akuntabel guna menjaga kepercayaan publik sekaligus fondasi utama agar bantuan yang dihimpun dari masyarakat dapat tersalurkan secara tepat sasaran dan berkelanjutan.
Hal ini sebagaimana yang diinisiasi LAZISNU Jawa Tengah dengan Bank Jateng Syariah dalam menghadirkan layanan penghimpunan dana digital. Dia memandang positif kolaborasi tersebut mengingat sekecil apapun kontribusi masyarakat, akan memberikan dampak besar jika dikelola secara transparan.
“Kepercayaan masyarakat hanya akan tumbuh jika diolah secara transparan, akutabel, dan tepat sasaran. Dari situ akan lahir loyalitas, rasa memiliki, dan kekuatan bersama untuk menjaga masa depan NU,” katanya.
Sekolah Rakyat merupakan salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan akses pendidikan gratis dan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga dengan tingkat kesejahteraan terendah (Desil 1-4) dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Program ini dirancang sebagai model pengentasan kemiskinan terpadu karena memadukan berbagai program unggulan pemerintah seperti Cek Kesehatan Gratis (CKG), Makan Bergizi Gratis (MBG), jaminan kesehatan PBI-JK, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, serta Program 3 Juta Rumah bagi keluarga siswa penerima manfaat.
Kementerian Sosial sebagai penyelenggara teknis melaporkan saat ini sudah sebanyak 166 titik Sekolah Rakyat Rintisan yang tersebar di 38 provinsi, dengan kapasitas 15.900 siswa, didukung oleh 2.400 guru dan lebih dari 4.000 tenaga kependidikan di jenjang SD, SMP, dan SMA atau sederajat.
Baca juga: BRIN sambut beasiswa riset Baznas guna dorong talenta periset muda
Baca juga: Baznas RI gelar pesantren marjinal untuk 100 anak yatim di Banyuwangi
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































