Kemenko IPK: Integrasi KAI dan INKA perkuat ekosistem perkeretaapian

2 weeks ago 5

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko IPK) mengungkapkan integrasi strategis antara PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI dan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA dapat memperkuat ekosistem perkeretaapian nasional.

"Sudah pasti (memperkuat ekosistem perkeretaapian). Integrasi KAI dan INKA itu bagian dari ekosistem yang sama," ujar Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Konektivitas Kemenko IPK Rustam Efendi dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Menurut dia, Kemenko IPK mengoordinasikan Kementerian Perhubungan, di mana di situ juga terdapat Direktorat Jenderal Perkeretaapian yang selalu in-charge terkait dengan INKA maupun KAI. Jadi sudah pasti Kemenko IPK ada kaitannya dengan koordinasi bersama mereka.

"Harapannya lebih baik untuk perkeretaapian kita," katanya.

Sebagai informasi, PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan PT Industri Kereta Api (Persero) memulai proses integrasi strategis. Integrasi diarahkan untuk menyelaraskan proyeksi kebutuhan layanan kereta api dengan kemampuan industri manufaktur nasional.

Senior Vice President Business Performance & Asset Optimization Cluster Logistic Danantara Asset Management Desty Arlaini mengatakan, proses integrasi perlu diawali dengan kesamaan visi dari seluruh jajaran pimpinan dan insan kedua perusahaan.

Menurut Desty, kepemimpinan, kepercayaan, dan budaya kerja menjadi faktor penting dalam proses integrasi. Setiap keputusan diarahkan untuk menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat pengguna kereta api, perusahaan, pemegang saham, dan negara.

Sementara itu, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan integrasi KAI dan INKA membuka peluang besar bagi pengembangan industri manufaktur kereta api Indonesia. Kebutuhan sarana dalam jangka panjang membutuhkan perencanaan yang semakin terhubung antara KAI sebagai operator dan INKA sebagai produsen.

Salah satu potensi terbesar berasal dari kebutuhan Kereta Rel Listrik atau KRL. Berdasarkan perhitungan awal KAI, kebutuhan KRL hingga 2040 diproyeksikan mencapai sekitar 156 rangkaian.

Direktur Utama PT INKA (Persero) Bambang Jatmika mengatakan, kick-off tersebut menjadi tonggak penting dari rencana integrasi yang telah dibahas selama beberapa tahun. Integrasi akan mempertemukan pengalaman KAI dalam memahami kebutuhan operasional dengan kompetensi INKA dalam desain, rekayasa, dan produksi sarana.

Menurut Bambang, koordinasi yang semakin erat akan membantu kedua perusahaan menyelaraskan proyeksi kebutuhan, perencanaan produksi, jadwal pengujian, proses serah terima, pengembangan teknologi, dan peningkatan kualitas produk.

Integrasi tersebut diharapkan memperkuat kapasitas industri nasional dalam memenuhi kebutuhan sarana secara lebih terencana serta mengikuti perkembangan layanan kereta api di berbagai wilayah Indonesia.

Baca juga: KAI dan INKA Mulai Integrasi Strategis, Perkuat Ekosistem Industri Kereta Api Nasional

Baca juga: INKA gunakan PMN 2025 untuk kembangkan propulsi lokal dan bogie

Baca juga: KAI target akuisisi INKA bisa selesai pada November tahun ini

Pewarta: Suharsana Aji Sasra J C
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |