Jakarta (ANTARA) - Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian menilai inisiatif pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 GW yang dilengkapi dengan 320 GWh sistem penyimpanan energi yang tersebar di 80 ribu desa di seluruh Indonesia dapat membuka peluang industri dalam negeri.
“Inisiatif PLTS 100 GW membuka peluang besar bagi industri dalam negeri karena menciptakan kepastian pasar untuk menarik investasi manufaktur panel surya dan pengembangan rantai pasok domestik, sehingga dapat memperkuat industri nasional dan menciptakan lapangan kerja,” kata Asisten Deputi Pengembangan Ketenagalistrikan dan Geologi Kemenko Perekonomian Sunandar di Jakarta, Senin.
Lebih lanjut, Sunandar mengatakan, transisi energi selaras dengan pertumbuhan ekonomi dan energi bersih dapat menjadi fondasi pertumbuhan baru yang lebih berkualitas.
Indonesia, lanjut dia, mampu terus tumbuh dengan tetap menjaga intensitas karbon, sehingga pembangunan dan keberlanjutan dapat berjalan secara beriringan.
“Selain itu, inisiatif ini diharapkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui penyediaan energi yang mendukung kegiatan ekonomi desa, sehingga produktivitas dan kesejahteraan masyarakat meningkat,” ujar Sunandar.
Adapun inisiatif PLTS 100 GW ini diharapkan dapat memperluas akses listrik ke seluruh desa di Indonesia, di mana pengelolaannya akan dilakukan oleh masing-masing 80 ribu Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.
Ia mengatakan, kebijakan ini juga diharapkan dapat menjawab kendala yang dihadapi oleh pemerintah Indonesia untuk meningkatkan elektrifikasi pada desa-desa yang belum mendapatkan aliran listrik dari PLN.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), masih ada sekitar 5.758 desa atau 1,2 juta rumah tangga yang belum teraliri listrik.
Sementara itu, CEO Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, dengan strategi implementasi yang tepat, program PLTS 100 GW dapat menyediakan listrik yang andal dan terjangkau bagi puluhan juta masyarakat.
“Selain itu, juga menghemat subsidi BBM hingga Rp21 triliun, mendorong investasi 50-70 miliar dolar AS dari energi surya, menciptakan 118 ribu lapangan kerja hijau, serta secara signifikan berkontribusi menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK),” kata Fabby.
Baca juga: FPCI ajukan lima rekomendasi percepatan PLTS 100 GW
Baca juga: Menteri Bahlil: Proyek baterai konsorsium Huayou dukung 100 GW PLTS
Baca juga: Masdar UEA: PLTS Cirata beroperasi sesuai rencana, jadi sorotan dunia
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































