Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak pada peningkatan kompetensi murid serta relevansi pendidikan vokasi melalui praktik baik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dikelola sekolah menengah kejuruan (SMK).
Salah satunya adalah dapur SPPG SMK Perikanan dan Kelautan Puger, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur.
“Selain meningkatkan asupan gizi masyarakat, dapur SPPG ini juga telah meningkatkan kompetensi murid dan mengenalkan budaya kerja secara langsung kepada murid, karena mereka bekerja bersama para ahli,” kata Kepala SMK Perikanan dan Kelautan Puger Kuntjoro Basuki di Jakarta, Jumat.
Baca juga: Riset UI sebut MBG berdampak positif pada kelompok ekonomi rendah
Ia menerangkan dapur SPPG tersebut setiap harinya memproduksi 3.000 paket MBG yang dibagikan untuk seluruh murid dari jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, hingga pendidikan menengah, serta balita, ibu hamil, dan ibu menyusui di wilayah Puger Kulon, Jember.
Uniknya, lanjutnya, dapur SPPG itu melibatkan sejumlah teaching factory (Tefa) yang ada di sekolah, di antaranya Tefa udang vaname dan Tefa Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan (APHPi).
Selain itu, dapur SPPG itu juga melibatkan para murid dalam berbagai tugas atau pekerjaan bersama 50 pekerja lain yang merupakan warga sekitar sekolah.
Bahkan, salah satu investor dapur SPPG tersebut, lanjutnya, merupakan alumni yang telah sukses bekerja di Jepang, termasuk pemasok sayur mayur juga merupakan alumni dari Program Keahlian Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan.
Ia menambahkan bahwa melalui dapur SPPG, para murid dilatih untuk menghitung kebutuhan bahan, lama pengolahan, durasi, serta jumlah produk yang dihasilkan.
Menurut Kuntjoro, dapur SPPG itu telah menggerakkan Tefa APHPi yang selama ini melayani masyarakat dengan produk olahan makanan bergizi, yermasuk Tefa budi daya tambak udang vaname sebagai pemasok dapur SPPG.
“Dalam dapur SPPG ini, Tefa APHPi dan Tefa udang vaname berperan menjadi pemasok utama dapur dan dampaknya adalah proses produksi Tefa yang semuanya dikerjakan oleh para siswa kelas XI dan XII sebagai praktik mata pelajaran produktif akhirnya menjadi lebih produktif,” kata Kuntjoro.
Baca juga: Anggota DPR: MBG investasi jangka panjang tingkatkan kualitas SDM
Baca juga: Kemenperin tekankan sertifikasi halal di MBG jaga kualitas
Salah seorang murid kelas XI SMK Perikanan dan Kelautan Puger Oktavian Ardiansyah merasakan manfaat langsung keberadaan dapur SPPG dalam meningkatkan kompetensi dan kesiapan kerja.
Bahkan, kata dia, secara tidak langsung telah mengantarkan dirinya juara pada Lomba Kompetensi Siswa (LKS) di Kabupaten Jember.
“Dengan adanya dapur MBG, saya dan teman-teman menjadi supplier ke dapur MBG untuk produk pentol, puding, udang kupas, dan telur kupas dan itu sangat berdampak bagi kita, dimana kita bisa tahu dan juga berlatih untuk analisis ekonomi mulai dari break even point (BEP) dan harga pokok penjualan (HPP). Jadi, seolah-olah kita yang memiliki usaha dan tentu membuat kita lebih siap untuk terjun ke dunia kerja nantinya,” ujar Oktavian.
Pewarta: Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































