Kanker ginjal, musuh senyap yang sering terlambat disadari

6 hours ago 1
Kanker ginjal mengingatkan kita bahwa kesehatan sering tidak runtuh karena satu kejadian besar, melainkan karena tanda-tanda kecil yang diabaikan terlalu lama.

Jakarta (ANTARA) - Kita sering mengira penyakit besar selalu datang dengan tanda yang keras. Nyeri hebat, tubuh melemah, atau gejala yang membuat seseorang langsung sadar bahwa ada sesuatu yang salah.

Kenyataannya tidak selalu demikian. Ada penyakit yang justru tumbuh dalam diam, tanpa banyak keluhan, lalu tiba-tiba diketahui ketika sudah jauh berkembang. Kanker ginjal adalah salah satu contoh paling jelas dari penyakit yang bekerja secara senyap.

Kepergian Vidi Aldiano setelah sekian tahun berjuang melawan kanker ginjal, bukan hanya kabar duka, melainkan juga cermin yang memantulkan kenyataan rapuh tubuh manusia. Kabar itu mengingatkan banyak orang bahwa kanker tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang bisa tampak sehat, tetap bekerja, tetap aktif, dan menjalani kehidupan seperti biasa. Namun di dalam tubuhnya, ada proses biologis yang perlahan berjalan tanpa disadari.

Kanker ginjal sering dijuluki sebagai “silent disease” atau penyakit yang diam-diam berkembang. Banyak kasus baru diketahui secara tidak sengaja, misalnya ketika seseorang melakukan pemeriksaan USG atau CT scan untuk masalah kesehatan lain. Saat itulah dokter menemukan adanya massa atau tumor di ginjal.

Baca juga: Kenali faktor risiko kanker ginjal, kanker yang menyerang Vidi Aldiano

Inilah yang membuat kanker ginjal berbahaya. Bukan karena ia selalu mematikan, tetapi karena sering terlambat dikenali.

Secara sederhana, kanker ginjal paling sering berasal dari sel-sel kecil di ginjal yang berfungsi menyaring darah dan membantu membentuk urine. Jenis yang paling umum disebut karsinoma sel ginjal (renal cell carcinoma). Tipe inilah yang paling sering ditemukan dalam praktik medis.

Hal pertama yang perlu dipahami masyarakat adalah bahwa kanker ginjal bukan penyakit langka yang muncul tanpa sebab sama sekali. Ada sejumlah faktor risiko yang cukup konsisten ditemukan. Tiga yang paling penting adalah merokok, obesitas, dan hipertensi. Selain itu, penyakit ginjal kronik, dialisis jangka panjang, paparan bahan kimia tertentu, dan faktor keturunan juga dapat berperan pada sebagian orang. Ini penting, karena sering kali masyarakat hanya mengaitkan kanker dengan faktor keturunan. Padahal, pada kanker ginjal, pengaruh gaya hidup dan gangguan metabolik sangat besar.

Lalu mengapa obesitas dan hipertensi dapat berkaitan dengan kanker ginjal? Karena tubuh manusia adalah satu sistem yang saling terhubung. Kelebihan berat badan bukan sekadar persoalan penampilan. Jaringan lemak aktif menghasilkan berbagai sinyal biologis yang memengaruhi peradangan, hormon, metabolisme insulin, dan stres oksidatif.

Baca juga: Menjaga kesehatan ginjal di bulan puasa dengan cukup minum air

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |