KAI: 890.165 pelanggan pakai "face recognition" demi efisiensi layanan

2 hours ago 4

Jakarta (ANTARA) - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat sebanyak 890.165 pelanggan Kereta Api Jarak Jauh memanfaatkan fasilitas teknologi pengenalan wajah (face recognition), sepanjang Januari 2026, demi efisiensi layanan.

"Pemanfaatan ini menunjukkan semakin tingginya kebutuhan pelanggan terhadap layanan perjalanan yang praktis, cepat, dan nyaman, seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat," kata Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba di Jakarta, Kamis.

Dia menyebutkan layanan face recognition saat ini tersedia di 22 stasiun, yaitu Bandung, Bekasi, Cirebon, Cirebon Prujakan, Gambir, Kiaracondong, Kutoarjo, Lempuyangan, Medan, Malang, Madiun, Pekalongan, Pasarsenen, Purwokerto, Surabaya Pasar Turi, Surabaya Gubeng, Solo Balapan, Semarang Poncol, Semarang Tawang, Tegal, dan Yogyakarta.

"Melalui fasilitas ini, pelanggan dapat melakukan proses boarding tanpa perlu menunjukkan tiket cetak maupun dokumen identitas secara manual," ujarnya.

Menurutnya layanan itu menghadirkan pengalaman boarding yang lebih sederhana dan efisien. Proses verifikasi identitas berlangsung lebih cepat, antrean dapat ditekan, dan waktu tunggu di area boarding menjadi lebih singkat, sehingga perjalanan terasa lebih tertib dan nyaman.

Pemanfaatan layanan itu juga berdampak pada efisiensi pengelolaan sumber daya. Boarding tanpa tiket cetak mengurangi kebutuhan penggunaan kertas. Dengan asumsi 1 roll kertas sepanjang 7.200 cm dapat mencetak sekitar 400 tiket, serta harga Rp14.765 per roll, biaya pencetakan setara sekitar Rp37 per tiket.

Berdasarkan perhitungan tersebut, lanjut Anne, penggunaan face recognition oleh 890.165 pelanggan selama Januari 2026 berpotensi menghemat biaya pencetakan tiket hingga sekitar Rp32,9 juta dalam ekuivalen penggunaan kertas dan material pendukung.

"Efisiensi ini sejalan dengan upaya KAI dalam mengelola operasional secara lebih efektif dan bertanggung jawab," jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan pengurangan penggunaan kertas juga berkontribusi pada penurunan kebutuhan bahan baku dan distribusi logistik, sehingga mendukung upaya pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Selain itu, digitalisasi layanan boarding menjadi bagian dari strategi KAI dalam menghadirkan layanan transportasi publik yang modern dan ramah lingkungan.

Anne menyampaikan pengembangan face recognition berangkat dari kebutuhan pelanggan akan layanan yang semakin praktis dan nyaman.

“Bagi pelanggan, face recognition memberikan kemudahan karena proses boarding menjadi lebih cepat dan sederhana. Dari sisi KAI, layanan ini membantu kami menjaga kelancaran operasional sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan,” kata Anne.

Anne menambahkan, menjelang mudik Lebaran Idul Fitri 2026, pemanfaatan face recognition akan semakin membantu pelanggan dalam mengoptimalkan waktu perjalanan.

“Kami mengajak pelanggan untuk memanfaatkan fasilitas ini agar proses boarding berjalan lebih lancar dan perjalanan dapat dinikmati dengan lebih nyaman,” kata Anne.

Baca juga: KAI: 748.855 pelanggan manfaatkan "face recognition" selama Nataru

Baca juga: ASDP uji coba teknologi pemindai wajah penumpang di Natal-tahun baru

Baca juga: Registrasi SIM berbasis biometrik diharapkan batasi penipuan digital

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |