Jingdezhen, awal mula porselen biru putih Tiongkok

6 hours ago 5
Warna biru kobalt menjadi sangat populer karena karakternya yang klasik dan stabil. Warna ini dapat diaplikasikan pada porselen dengan hasil yang relatif tahan lama

Beijing (ANTARA) - Pada era Dinasti Ming, sekitar tahun 1599 Masehi, seorang kasim bernama Pan Xiang diutus ke Jingdezhen untuk mengawasi pembuatan guci porselen putih bermotif naga biru pesanan kaisar.

Tugas tersebut sangat berat. Guci naga yang diminta berukuran sangat besar dan tebal sehingga amat sulit dibakar. Ketika dimasukkan ke dalam tungku bersuhu tinggi, guci tersebut sangat rawan pecah atau berubah bentuk.

Sesampainya di Jingdezhen, Pan Xiang langsung mencari tukang tungku ke mana-mana. Namun, karena tahu betapa sulitnya membuat guci naga berukuran raksasa itu, orang-orang merasa takut dan tidak ada satu pun yang berani mengambil pekerjaan tersebut.

Hingga akhirnya, muncullah Tong Bin, seorang pemuda kuat dari Desa Li yang bekerja sebagai juru bakar porselen.

Tong Bin bersama para tukang tungku mulai menggarap guci tersebut. Namun, prosesnya jauh lebih sulit dari perkiraan. Setiap kali proses pembakaran selesai, yang tersisa di dalam tungku hanyalah pecahan porselen.

Melihat hasil yang selalu gagal, para tukang tungku merasa tak berdaya, sementara Pan Xiang makin panik. Karena terus didesak oleh pihak istana, Pan Xiang mulai hilang kesabaran. Ia membentak, mencambuk, bahkan mengancam akan menghukum mati para pekerja.

Tidak tega melihat rekan-rekannya menderita dan terancam nyawanya, Tong Bin mengambil keputusan nekat. Pemuda berusia 22 tahun itu melompat ke dalam tungku untuk mengorbankan dirinya demi keberhasilan pembakaran guci naga tersebut.

Guci naga untuk kaisar di Balai Pameran Warisan Industri Porselen Kerajinan Tangan Jingdezhen, provinsi Jiangxi, China, Senin (31/8/2026) (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Pengorbanan heroik Tong Bin menyentuh hati para dewa. Saat para tukang tungku membuka pintu tungku usai pembakaran, sesosok guci porselen putih bermotif naga biru berdiri berkilau cemerlang, membuat semua orang terperangah.

Perasaan haru dan sedih bercampur aduk membalut para perajin. Satu per satu dari mereka berlutut penuh hormat di depan tungku. Namun, tewasnya Tong Bin juga menyulut amarah besar. Seluruh warga kota bangkit melawan, lalu membakar kantor pajak dan bengkel porselen milik kerajaan.

Kasim Pan Xiang yang ketakutan pun melarikan diri. Pasca-insiden tersebut, demi meredakan amuk massa, sebuah kuil didirikan untuk mengenang Tong Bin di sisi timur pabrik keramik kerajaan Jingdezhen. Tong Bin dianugerahi gelar Feng Huo Xian (Dewa Angin dan Api), dan kuil tersebut dinamai You Tao Ling Ci.

Kisah tragis ini boleh dipercaya ataupun dianggap sekadar legenda. Namun satu hal yang pasti, Kota Jingdezhen di Provinsi Jiangxi, tenggara Tiongkok, memang diakui secara historis sebagai tempat lahirnya porselen biru-putih legendaris yang dikenal dengan sebutan qingbai.

Baca juga: Pameran keramik internasional dimulai di "ibu kota porselen" China

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |