Hujan lebat berpotensi landa NTB hingga awal Maret 2026

2 weeks ago 19
...Kami memprakirakan cuaca berawan hingga hujan lebat berlangsung dari 23 Februari hingga 1 Maret 2026

Mataram (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang berpotensi melanda Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga awal Maret 2026 mendatang.

"Kami memprakirakan cuaca berawan hingga hujan lebat berlangsung dari 23 Februari hingga 1 Maret 2026," kata Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG NTB Anggi Dewita di Mataram, NTB, Senin.

Pada 23-25 Februari 2026, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di seluruh wilayah Nusa Tenggara Barat yang mencakup dua kota dan delapan kabupaten.

Memasuki periode 26 Februari hingga 1 Maret 2026, potensi hujan diprakirakan masih berlanjut dengan intensitas ringan hingga lebat di wilayah yang relatif sama dengan kemungkinan disertai petir dan angin kencang.

Anggi mengatakan suhu udara selama periode sepekan tersebut diperkirakan berkisar antara 23 derajat Celsius hingga 33 derajat Celsius.

Baca juga: BMKG: Waspada potensi hujan lebat di Sumsel hingga akhir Februari 2026

"Angin permukaan bertiup dengan variasi arah dominan dari barat daya hingga barat laut dengan kecepatan maksimum mencapai 38 kilometer per jam," ujarnya.

BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak cuaca ekstrem, seperti genangan, banjir, tanah longsor, serta gangguan aktivitas transportasi.

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, cuaca ekstrem di NTB selama dua hari terakhir yang hujan lebat dengan durasi lama terjadi akibat gangguan atmosfer.

Hasil analisa dinamika atmosfer terungkap bahwa gelombang Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan gelombang frekuensi rendah sedang aktif di wilayah Nusa Tenggara Barat.

Selain itu, di sekitar wilayah NTB juga muncul pertemuan angin dan perlambatan kecepatan angin; kelembapan udara yang cenderung basah di berbagai lapisan ketinggian; dan labilitas atmosfer kuat yang mendukung proses konvektif skala lokal.

Baca juga: BMKG: Waspada hujan lebat di Kaltim hingga 24 Februari

Baca juga: BMKG: Waspadai potensi terjadinya banjir dampak hujan di pegunungan

Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |