GIMNI tekankan revolusi teknologi sawit demi perkuat daya saing global

3 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menekankan urgensi revolusi teknologi industri sawit nasional rendah emisi guna menjawab tantangan keberlanjutan sekaligus memperkuat daya saing di pasar global.

"Kita harus mulai sekarang berpikir, revolutionize the technology. Karena saya lihat teknologi yang sekarang itu adalah teknologi usang," kata Sahat dalam acara berbuka puasa bersama awak media di Jakarta, Rabu malam.

Dalam kegiatan yang juga dihadiri Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) dan Asosiasi Perusahaan Oleochemical Indonesia (Apolin), Sahat menuturkan gagasan tersebut ia sampaikan setelah diundang perusahaan teknologi tinggi IES Group Global di China yang mampu memantau produktivitas dan kualitas produksi secara menyeluruh dari proses awal hingga akhir.

Selain itu, Sahat juga mendapat penugasan dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk berdialog dengan lembaga China di bawah Ministry of Ecology and Environment (MEE) yakni Chinese Society of Environmental Sciences (CSES) terkait transformasi sawit rendah emisi.

Baca juga: DMSI: Pembaruan teknologi penting agar industri sawit berkelanjutan

Dia menyampaikan ketertarikan tersebut berawal dari presentasinya pada 2022 di International Palm Oil Conference Kuala Lumpur melalui paper berjudul Total Sustainability yang menawarkan pendekatan berbeda terhadap industri sawit.

Dalam forum internasional itu, ia menantang perspektif lama yang menilai kualitas minyak hanya berdasarkan komposisi kimia, tanpa mempertimbangkan kandungan nutrisi penting bagi kesehatan.

Sahat mencontohkan minyak sawit memiliki kandungan antioksidan sekitar 1.150 parts per million (PPM), jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa minyak lain yang hanya sekitar 20 PPM dan tanpa tokotrienol.

Ia menilai perubahan teknologi pengolahan yang telah digunakan selama 104 tahun di Indonesia menjadi kunci agar industri mampu bertransformasi menuju sistem lebih efisien dan ramah lingkungan.

Baca juga: Pemerintah dukung pengembangan teknologi dan SDM pabrik kelapa sawit

Sahat yang juga Ketua Umum Dewan Sawit Indonesia (DMSI) mengaku bahwa menurut perhitungannya, pembaruan teknologi berpotensi menurunkan emisi karbon hingga 78 persen atau setara 45,3 juta ton CO2 ekuivalen per tahun.

Dengan asumsi, menurut dia, harga karbon 15 dolar Amerika Serikat (AS) per ton, potensi nilai perdagangan karbon tersebut mendekati 700 juta dolar AS per tahun.

Untuk mewujudkan transformasi itu, ia menghitung kebutuhan pendanaan sekitar Rp345 triliun yang mencakup Rp171 triliun untuk replanting 2,5 juta hektare dan Rp141 triliun modernisasi mesin.

Melalui program berkelanjutan hingga 2032, produktivitas petani yang kini rata-rata 9,3 ton tandan buah segar (TBS) per hektar per tahun ditargetkan meningkat menjadi 21,3 ton per hektar per tahun.

Sahat optimistis revolusi teknologi, dukungan investasi, serta pemanfaatan satelit untuk mendeteksi penyakit Ganoderma akan membawa industri sawit Indonesia memasuki era baru rendah emisi dan bernilai tambah tinggi.

Baca juga: RSPO Serukan Peningkatan Inklusi Petani Kecil dan Adopsi Teknologi yang Lebih Luas

Baca juga: Kementan terapkan teknologi tracing DNA sawit guna jaga produktivitas

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |