Ekonom: Pertumbuhan ekonomi perlu hasilkan nilai tambah lebih besar

2 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan pertumbuhan ekonomi perlu menghasilkan ekspor dan nilai tambah lebih besar tanpa diikuti kenaikan impor yang terlalu tinggi dalam jangka panjang guna memperbaiki posisi neraca transaksi berjalan.

“Hilirisasi perlu benar-benar memperkuat rantai produksi dalam negeri dan menghasilkan produk yang kompetitif di pasar global. Ketahanan energi, penguatan industri domestik, perbaikan logistik, serta pengembangan pariwisata dan jasa digital juga penting untuk memperbaiki posisi transaksi berjalan,” ujar dia ketika ditanya ANTARA di Jakarta, Kamis.

Adapun dalam jangka pendek, menurut dia, Bank Indonesia (BI) harus tetap fokus menjaga stabilitas rupiah dan kepercayaan terhadap cadangan devisa.

Pelonggaran kebijakan moneter perlu dilakukan dengan hati-hati sembari melihat tekanan dari eksternal, bukan hanya perkembangan inflasi domestik.

Pemerintah juga dianggap perlu lebih selektif dalam belanja yang memiliki kandungan impor tinggi, serta memperbaiki kebijakan subsidi energi agar konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak terus meningkat.

Pada kuartal II-2026, defisit transaksi berjalan Indonesia melonjak menjadi 12,5 miliar dolar AS, atau setara 3,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang merupakan level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Walaupun memang ada faktor sementara seperti kenaikan harga energi dan peningkatan impor, kata dia, tetapi angkanya juga menunjukkan persoalan yang sudah cukup lama ada.

Surplus barang turun menjadi sekitar 1,3 miliar dolar AS, lalu defisit minyak dan gas (migas) membesar. Adapun impor bahan baku, barang modal, dan barang konsumsi masih tinggi seiring aktivitas ekonomi domestik yang tetap kuat.

Tekanan terlihat pula pada sektor jasa dan pendapatan primer, mengingat defisit jasa yang mendekati 6 miliar dolar, terutama disebabkan peningkatan biaya pengangkutan. Pendapatan primer juga masih mencatat defisit akibat pembayaran dividen, bunga, dan laba kepada investor asing.

“Artinya, ketika ekonomi bergerak lebih cepat, kebutuhan devisa kita masih ikut meningkat,” kata Yusuf.

Secara keseluruhan, ujar dia, neraca pembayaran memang hanya defisit sekitar 0,9 miliar dolar AS. Transaksi modal dan finansial mencatat surplus sekitar 12 miliar dolar AS, sementara cadangan devisa masih berada di level 145,6 miliar dolar.

Kondisi itu dinilai masih cukup aman, tetapi perlu dilihat kualitas penopangnya, menimbang sebagian tekanan transaksi berjalan tertutup oleh arus modal, sedangkan arus seperti itu sangat bergantung pada kondisi pasar keuangan global.

“Saya belum melihat defisit 3,3 persen PDB ini sebagai krisis seperti pada 2013. Cadangan devisa masih kuat dan arus modal masih memberikan bantalan. Namun, angka ini menunjukkan bahwa struktur pertumbuhan kita masih cukup haus devisa,” ujar dia

“Kalau semester kedua tidak ada perbaikan pada neraca barang dan jasa, ruang Bank Indonesia untuk menjaga rupiah sekaligus menurunkan suku bunga akan semakin sempit,” kata Ekonom CORE tersebut.

Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |