Jakarta (ANTARA) - Anggota DPR RI Azis Subekti mendorong penguatan ketahanan kognitif atau cognitive resilience masyarakat menjadi bagian dari transformasi kecerdasan buatan (AI) nasional.
Adapun, tujuannya agar perkembangan teknologi tidak mengurangi kemampuan manusia untuk berpikir secara mandiri dan kritis.
Azis dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, menilai perkembangan generative AI telah membawa perubahan yang berbeda dibandingkan teknologi digital sebelumnya karena AI tidak lagi hanya membantu manusia mencari informasi, tetapi juga dapat membantu menyusun jawaban dan argumentasi.
Baca juga: ANRI: Arsip sejarah harus autentik dan tidak boleh dimanipulasi AI
"Ketahanan kognitif bukan sekadar kemampuan menemukan kesalahan AI. Ketahanan kognitif adalah kemampuan mempertahankan kemerdekaan proses mengetahui," katanya.
Ia menjelaskan kemampuan tersebut mencakup kebiasaan membentuk pertanyaan sebelum meminta jawaban, menahan kesimpulan ketika bukti belum cukup, membedakan pengetahuan dan dugaan serta mencari argumentasi yang dapat menguji keyakinan sendiri.
Menurut dia, pemanfaatan AI tidak perlu dipertentangkan dengan kemampuan berpikir manusia karena teknologi dapat membantu mengurangi beban pekerjaan kognitif yang rutin.
Namun, ia menilai perlu dibedakan antara pemanfaatan AI yang membebaskan kapasitas berpikir manusia dengan penggunaan teknologi yang justru menggantikan proses berpikir.
"Garis penting zaman ini bukan antara menggunakan AI dan tidak menggunakan AI. Garisnya berada antara offloading yang membebaskan pikiran dan offloading yang menggantikan pikiran," ujarnya.
Azis mengatakan kemampuan berpikir kritis semakin diperlukan karena jawaban yang dihasilkan AI dapat disampaikan dengan bahasa yang fasih dan sistematis sehingga berpotensi membuat pengguna memberikan kepercayaan berlebihan terhadap hasil yang disampaikan mesin.
Oleh karena itu, masyarakat perlu tetap memeriksa sumber, asumsi, bukti serta argumentasi yang menjadi dasar suatu kesimpulan.
Ia menilai tantangan tersebut perlu menjadi perhatian khusus dunia pendidikan.
Menurut Azis, sekolah dan perguruan tinggi ke depan tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan menggunakan kecerdasan buatan, tetapi juga perlu memastikan peserta didik tetap menjalani proses membentuk kemampuan berpikir.
Baca juga: Pengembang Kalbar hibahkan teknologi berbasis AI prediksi karhutla
"Sekolah masa depan mungkin tidak cukup mengajari anak bagaimana menggunakan AI. Sekolah harus mengajari bagaimana tetap berpikir ketika AI tersedia," katanya.
AI, katanya melanjutkan, dapat dimanfaatkan sebagai tutor maupun alat bantu pembelajaran, tetapi peserta didik tetap membutuhkan kesempatan membaca secara mandiri, menyusun argumentasi, menghadapi kesulitan, melakukan kesalahan dan memperbaiki pemahamannya.
Azis juga mengaitkan perkembangan AI dengan kebutuhan Indonesia untuk memperkuat kemampuan menghasilkan pengetahuan mengenai kondisi dan pengalaman masyarakatnya sendiri.
Menurutnya, AI dibangun berdasarkan data, bahasa dan pengetahuan yang tersedia sehingga tidak selalu mampu menangkap seluruh kompleksitas sosial dan pengalaman Indonesia.
"AI dapat membantu kita memahami Indonesia, tetapi AI tidak pernah hidup sebagai Indonesia," ujar Azis.
Ia mengatakan Indonesia perlu membangun kedaulatan epistemik, yakni kemampuan bangsa untuk tidak hanya mengakses pengetahuan dunia, tetapi juga menghasilkan pengetahuan tentang dirinya sendiri.
Untuk itu, menurut dia, keberhasilan transformasi AI nasional tidak cukup diukur berdasarkan tingkat penggunaan teknologi tersebut.
Ia mengatakan ukuran keberhasilannya perlu dilihat dari dampak AI terhadap kualitas pendidikan, layanan kesehatan, pengambilan keputusan birokrasi, produktivitas petani, kegiatan penelitian hingga kemampuan masyarakat membedakan fakta dan persuasi.
"Jika jawabannya tidak, kita mungkin sedang melakukan digitalisasi tanpa mengalami transformasi kecerdasan," katanya.
Baca juga: Imigrasi perkuat teknologi digital dengan AI perketat pengawasan WNA
Pewarta: Benardy Ferdiansyah
Editor: Fitri Supratiwi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































