DPR dorong "dupe culture" jadi peluang penguatan brand lokal

2 hours ago 4
“Fenomena membeli barang dupe kini justru dianggap pintar daripada sekadar memaksakan diri membeli barang branded, mencerminkan pola pikir konsumen yang lebih selektif pada nilai fungsi,”

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim menilai tren dupe culture di kalangan generasi muda dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk mendorong pertumbuhan brand atau jenama lokal dan industri nasional.

Ia mengatakan fenomena produk dupe, yakni barang dengan fungsi serupa produk premium namun berharga lebih terjangkau, kian marak di kalangan Gen Z dan milenial, seiring pengaruh media sosial dan perubahan pola konsumsi.

“Fenomena membeli barang dupe kini justru dianggap pintar daripada sekadar memaksakan diri membeli barang branded, mencerminkan pola pikir konsumen yang lebih selektif pada nilai fungsi,” ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Menurut dia, kecenderungan tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi pelaku usaha lokal untuk menghadirkan produk kreatif yang kompetitif, tanpa harus meniru secara ilegal identitas merek lain.

“Penting untuk kita membedakan antara barang tiruan dan barang KW, produk-produk dupe sejatinya tidak menggunakan logo atau branding merek aslinya meski demikian kita lebih mendorong ke arah paradigma designer inspired (terinspirasi karya desainer),” jelasnya.

Chusnunia menekankan pendekatan amati, tiru, modifikasi merupakan praktik yang lazim dalam proses pembelajaran industri, selama menghasilkan inovasi baru dan bukan sekadar plagiasi.

“Dalam dunia bisnis, praktik amati, tiru, modifikasi lazim dilakukan sebagai bentuk pembelajaran industri. Selama proses tersebut menghasilkan inovasi baru, bukan sekadar plagiasi,” ujarnya.

Ia mencontohkan negara seperti China dan Korea Selatan yang pada tahap awal industrialisasi mengadaptasi produk luar, sebelum akhirnya mampu mengembangkan inovasi dan jenama global sendiri.

Lebih lanjut, ia mendorong agar fenomena ini diarahkan untuk memperkuat ekosistem industri kreatif dalam negeri, termasuk sektor fesyen dan kecantikan, melalui peningkatan kualitas produk dan daya saing.

“Budaya imitasi di kalangan Gen Z kita dapat mendorong kreativitas brand lokal untuk berkreatifitas untuk mendorong brand lokal tumbuh menjadi brand global saat ini,” tambahnya.

Selain itu, pertumbuhan brand lokal dinilai dapat memberikan efek berantai terhadap industri nasional, termasuk penyediaan bahan baku dan rantai produksi yang lebih efisien.

“Bila dupe culture ini merangsang tumbuhnya brand-brand lokal kita yakin hal tersebut juga akan berdampak pada pertumbuhan industri nasional untuk memproduksi bahan baku yang murah,” pungkasnya.

Baca juga: Komisi VII DPR minta pemerintah antisipasi penutupan Selat Hormuz

Baca juga: Komisi VII DPR minta pemerintah tinjau ulang kesepakatan dagang AS-RI

Baca juga: Komisi VII: Berdayakan peternak lokal penuhi kebutuhan susu nasional

Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Agus Setiawan
Copyright © ANTARA 2026

Read Entire Article
Rakyat news | | | |