Dosen FKIK Unismuh dikirim Kemenkes ke Myanmar

18 hours ago 4
ini merupakan salah satu implementasi di level internasional dari visi dan misi FKIK Unismuh Makassar

Makassar (ANTARA) - Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr Muhammad Ihsan Kitta Sp.OT, mendapat mandat khusus dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk bertugas di Myanmar.

"Benar, dr Ihsan telah bergabung dengan tim medis dari Indonesia dan saat ini sedang menjalankan misi kemanusiaan di Myanmar,” ujar Dekan FKIK Unismuh Prof Dr dr Suryani As’ad Sp.GK (K) dalam keterangannya di Makassar, Jumat.

Gempa berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Myanmar pada 28 Maret lalu telah menelan lebih dari 3.000 korban jiwa dan melukai lebih dari 3.000 orang. Pemerintah Myanmar melalui jalur diplomatik resmi meminta bantuan internasional, termasuk dari Indonesia.

Ia menjelaskan, Ihsan yang juga menjabat sebagai Ketua Departemen Emergency Medicine FK Unismuh, tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT) Indonesia yang dikirim membantu korban gempa bumi di negara tersebut.

Penugasan ini tertuang dalam surat resmi dari Kementerian Kesehatan, bernomor KK.02.03/A.X/1279/2025, tertanggal 1 April 2025. Ihsan Kitta merupakan satu dari 35 tenaga medis dan kesehatan yang tergabung dalam EMT Tipe 1 Fixed untuk memberikan bantuan layanan kesehatan darurat di wilayah terdampak gempa.

Baca juga: Kementan salurkan bantuan pangan bagi korban gempa Myanmar

Baca juga: Baznas RI kirim 16 ribu paket bantuan untuk korban gempa Myanmar

Menurutnya, keikutsertaan Ihsan tidak hanya menjadi kebanggaan bagi institusi, tetapi juga menjadi wujud nyata kontribusi sivitas akademika dalam aksi kemanusiaan lintas negara.

“Kegiatan ini merupakan salah satu implementasi di level internasional dari visi dan misi FKIK Unismuh Makassar, khususnya dalam membangun jejaring dan kontribusi global,” tegasnya.

Di lokasi penugasan, Ihsan juga berkesempatan bertemu langsung dengan Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), Muhammad Jusuf Kalla, yang turut berada di Myanmar dalam misi kemanusiaan serupa.

“Mereka sempat berdialog singkat mengenai koordinasi bantuan dan kondisi lapangan,” tambah Prof Suryani.

Tim EMT Indonesia direncanakan bertugas selama 14 hingga 30 hari, dan seluruh pembiayaan ditanggung oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Para tenaga medis yang dikirim terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat, hingga tenaga logistik.

Baca juga: Korban tewas gempa Myanmar sudah lampaui 3.000 orang

Baca juga: Tim K9 Polri temukan korban gempa dalam operasi SAR di Myanmar

Baca juga: WHO identifikasi 12 kebutuhan kritis korban gempa Myanmar

Pewarta: Abdul Kadir
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2025

Read Entire Article
Rakyat news | | | |