Dirut Dana Syariah Indonesia sampaikan permintaan maaf

2 hours ago 4

Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama PT Dana Syariah Indonesia (DSI) Taufiq Aljufri yang menjadi tersangka kasus dugaan penipuan hingga tindak pidana pencucian uang atau TPPU menyampaikan permintaan maaf kepada para lender (pemilik modal) PT DSI.

"Kepada para lender, Bapak-bapak, Ibu-ibu sekalian, atas nama Pak Taufiq dan keluarga, kami memohon maaf lahir dan batin," kata pengacara Taufiq Aljufri, Pris Madani, di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Senin.

Ia juga mengatakan bahwa kliennya siap menjalani proses hukum yang saat ini ditangani Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri.

"Sebagai warga negara yang tentu taat kepada hukum, proses dan mekanisme ini akan kami lalui, kami jalani," katanya.

Sebelumnya, Dittipideksus Bareskrim Polri menetapkan tiga orang sebagai tersangka kasus dugaan penipuan hingga TPPU terkait PT DSI.

Mereka adalah TA (Taufiq Aljufri) selaku Direktur Utama PT DSI dan pemegang saham PT DSI, MY selaku mantan Direktur PT DSI dan pemegang saham PT DSI serta Direktur Utama PT Mediffa Barokah Internasional dan PT Duo Properti Lestari, dan ARL selaku Komisaris PT DSI dan pemegang saham PT DSI.

Baca juga: Polri tetapkan petinggi PT DSI tersangka kasus dugaan penipuan-TPPU

Dirtipideksus Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Polisi Ade Safri Simanjuntak mengatakan bahwa mereka disangkakan melakukan tindak pidana penggelapan dalam jabatan dan/atau tindak pidana penggelapan dan/atau tindak pidana penipuan dan/atau tindak pidana penipuan melalui media elektronik dan/atau tindak pidana membuat pencatatan laporan palsu dalam pembukuan atau laporan keuangan dan/atau tanpa didukung dokumen yang sah serta TPPU penyaluran pendanaan dari masyarakat yang dilakukan PT DSI dengan menggunakan proyek fiktif dari data atau informasi borrower existing (peminjam aktif).

Ia menjelaskan dalam kasus ini, PT DSI merupakan penyelenggara layanan pendanaan bersama berbasis teknologi informasi yang menghubungkan antara pihak lender (pemilik modal) dengan borrower (peminjam).

Borrower existing yang masih dalam ikatan perjanjian aktif dan berstatus melakukan angsuran aktif, digunakan kembali oleh PT DSI untuk dilekatkan pada proyek-proyek fiktif tanpa sepengetahuan borrower.

Hal tersebut kemudian ditransmisikan oleh PT DSI dalam platform digital mereka guna menarik pihak lender.

"Itulah yang kemudian membuat para lender ini tertarik bahwa ada proyek-proyek yang membutuhkan pembiayaan dan mereka masuk untuk melakukan investasi," ucapnya.

Pada saat bulan Juni 2025, ketika para lender melakukan penarikan atau withdrawal pendanaan yang telah jatuh tempo, baik dana modal pokok maupun imbal hasil yang dijanjikan oleh PT DSI sekitar 16 sampai 18 persen terhadap para lender-nya, dana tersebut tidak bisa ditarik.

Ia menambahkan total terdapat 15.000 korban dalam kurun waktu 2018–2025.

Baca juga: Polri periksa dua petinggi PT DSI tersangka kasus dugaan penipuan-TPPU

Baca juga: Polri sita dokumen hingga data transaksi dari penggeledahan PT DSI

Pewarta: Nadia Putri Rahmani
Editor: Didik Kusbiantoro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |