Dari bakau ke surga

6 days ago 8
Pendekatan etnografis yang dipilih para penulis menempatkan buku ini sebagai ruang untuk mendengar suara manusia, suara alam, dan suara iman, lebih daripada sekadar menjelaskan Asmat sebagai objek pengetahuan

Jakarta (ANTARA) - Mendengar istilah daerah tertinggal, yang terbayang kerap kali adalah keterbatasan fasilitas umum, pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga peluang kerja. Seolah-olah Tuhan pun jauh dari umat-Nya.

Di Kabupaten Asmat, salah satu pesisir Provinsi Papua Selatan yang tanahnya nyaris tidak pernah kering, masyarakat hidup di antara rawa-rawa dan sungai yang mengalir jauh dari pedalaman serta berjarak dari hiruk pikuk kegiatan orang kota.

Dari kacamata orang luar, wilayah Asmat dan warganya bisa saja disebut sebagai daerah yang terpencil dan tidak ada apa-apanya, tetapi budaya mereka berupa tarian, ukiran kayu, dan cara hidup yang harmonis dengan lingkungan alam, adalah kekayaan unik yang menarik perhatian Evi Aryati Arbay, etnograf yang telah menulis sejumlah buku berlatar budaya Indonesia.

Buku berjudul Dari Bakau ke Surga: Tuhan Tidak Pernah Jauh mengungkapkan kenyataan bahwa Tuhan memang tidak pernah jauh dari umat-Nya. Hal itu terasa melalui tulisan-tulisan Mgr Aloysius Murwito OFM, Uskup Agats, yang menjadi penyumbang utama refleksi dalam buku tersebut.

Meskipun menyajikan serangkaian surat gembala dari seorang uskup, buku ini tidak hadir sebagai doktrin keagamaan, melainkan sebagai kesaksian seorang gembala tentang daerah tapal batas dan masyarakatnya.

Evi, sebelumnya pernah merekam kehidupan Suku Dani di Lembah Baliem, juga kehidupan warga Kampung Baduy di Kabupaten Banten dan juga buku mengenai jejak Perang Pasifik di Biak, menunjukkan konsistensi penulis yang merekam jejak peristiwa dari tempat-tempat sunyi.

Kali ini, perempuan dengan etnis Betawi yang juga mempelajari komunikasi kepemimpinan ini, menulis bersama dengan John Ohoiwirin, petugas pastoral keuskupan Agats, menghadirkan jati diri Asmat sebagai pusat kemanusiaan, sesuai dengan makna nama Asmat yang berakar dari kata Asamat yang artinya manusia.

Selain catatan penulis dalam bentuk esai, sejumlah tulisan renungan, homili dan 18 surat gembala dari Aloysius Murwito memperkaya isi buku yang dilengkapi dengan sejumlah foto kegiatan pastoral di wilayah Keuskupan Agats.

Mendengar

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |