Beijing (ANTARA) - Pemerintah China menegaskan gagasan soal "kemerdekaan Taiwan" merupakan akar dari ancaman terhadap stabilitas di Selat Taiwan.
"'Kemerdekaan Taiwan' adalah akar dari semua ancaman terhadap perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan. Apa pun yang dikatakan atau dilakukan Lai Ching-te, itu tidak mengubah fakta yang didukung oleh sejarah dan hukum bahwa Taiwan adalah milik China," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Kamis (12/2).
Hal itu disampaikan menanggapi pernyataan pemimpin Taiwan Lai Ching-te dalam satu wawancara dengan media yang mengeklaim bahwa negara-negara di Asia-Pasifik bisa menjadi target berikutnya dari China jika Beijing berhasil menyerang Taiwan.
Lai menyebut jika Taiwan dianeksasi oleh China, maka ambisi ekspansionis China tidak akan berhenti di situ. Negara-negara berikutnya yang terancam adalah Jepang, Filipina, dan negara-negara lain di kawasan Indo-Pasifik, dengan dampak yang pada akhirnya akan mencapai Amerika dan Eropa.
"Pernyataan Lai Ching-te sekali lagi mengungkapkan sifatnya sebagai seorang separatis garis keras untuk 'kemerdekaan Taiwan'. Ia telah sepenuhnya membuktikan dirinya sebagai perusak perdamaian, pembuat krisis, dan penghasut perang," tambah Lin Jian.
Li Jian menegaskan bahwa pernyataan Lai tidak mengubah komitmen terhadap prinsip "satu China" dan keniscayaan reunifikasi China.
"Mencari kemerdekaan dengan meminta dukungan asing dan menolak reunifikasi melalui peningkatan kekuatan militer hanyalah sia-sia dan pasti akan gagal," ungkap Lin Jian.
Dalam wawancara itu juga disebutkan bahwa Lai menyebut parlemen Taiwan sedang dalam proses menyetujui anggaran tambahan sebesar 29,3 miliar euro (sekitar 40 miliar dolar AS) untuk mendanai pembelian pertahanan penting, termasuk senjata tingkat tinggi dari AS yang dapat membantunya melawan pasukan Tiongkok jika terjadi eskalasi militer.
Lai juga mengeklaim AS akan mendukung Taiwan dan tidak akan menggunakan negara pulau itu sebagai "alat tawar-menawar" dengan China, bahkan ketika Xi memperingatkan Washington agar tidak menjual senjata ke Taiwan.
Lai Ching-te dari Partai Progresif Demokratik (DPP) dinilai sebagai pemimpin Taiwan yang sangat gigih memperjuangkan kemerdekaan Taiwan. Namun, Beijing menyebut dia "berbahaya" dan menjadi salah satu "kelompok separatis" sehingga dapat memicu konflik lintas Selat.
Di bawah kepemimpinan mantan pemimpin Taiwan Tsai Ing-wen dari DPP sejak 2016, Taiwan mengambil sikap keras menentang Beijing serta prinsip "Satu China" yang mengatakan bahwa Taiwan merupakan wilayah di bawah kekuasaan Beijing.
Saat ini hanya ada 12 negara yang punya hubungan diplomatik dengan Taiwan yaitu Belize, Guatemala, Paraguay, Haiti, Saint Kitts and Nevis, Saint Lucia, Saint Vincent and the Grenadines, Kepulauan Marshall, Palau, Tuvalu, Eswatini dan Vatikan.
Baca juga: Lai Ching-te: Jika China kuasai Taiwan, negara lain bisa jadi target
Baca juga: Xi-Trump bahas Taiwan dalam pembicaraan telepon
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































