Beijing (ANTARA) - China meminta agar hasil kesepakatan Dialog Keamanan Segi Empat (Quad) tidak menargetkan negara lain di luar anggota kelompok tersebut.
"China telah menyatakan posisinya tentang Quad pada beberapa kesempatan. Kerja sama antarnegara harus kondusif bagi perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran regional, dan tidak menargetkan pihak ketiga mana pun," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Selasa (26/5).
Mao juga menegaskan China menolak pembentukan kelompok eksklusif maupun konfrontasi antarkelompok.
"Kami menentang pembentukan kelompok eksklusif atau terlibat dalam konfrontasi blok," ujarnya.
Sebelumnya, para menteri luar negeri dari Amerika Serikat, India, Jepang, dan Australia yang tergabung dalam Quad menggelar pertemuan pada Selasa.
Dalam pertemuan itu, negara-negara Quad menyerukan pentingnya keamanan maritim dan solusi diplomatik untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Mereka juga menolak biaya melintas yang dinilai memengaruhi perdagangan maritim.
Baca juga: Quad desak solusi diplomatik bagi krisis Selat Hormuz, tolak pungutan
Quad juga akan meluncurkan kerangka kerja mineral kritis guna memperkuat rantai pasok mineral penting.
Kelompok empat negara itu pertama kali digagas pada 2007 oleh mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe sebagai mekanisme konsultasi informal.
Kelompok tersebut mengusung visi kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.
Namun, setelah 2007, aktivitas Quad sempat meredup, termasuk ketika Australia di bawah pemerintahan Kevin Rudd menjalin hubungan lebih dekat dengan Beijing.
Quad kembali aktif pada masa Presiden AS Joe Biden dengan menggelar pertemuan tingkat pemimpin pada 2021.
Pertemuan puncak para pemimpin Quad terakhir berlangsung di Amerika Serikat pada 2024.
Baca juga: Jepang, India siap bekerja sama pastikan pasokan energi
Baca juga: Quad luncurkan inisiatif perkuat ketahanan energi Indo-Pasifik
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































