Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan siap bergabung ke dalam ekosistem riset Biomedical Genome Science Initiative (BGSI) yang diinisiasi oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI untuk mewujudkan kesehatan masyarakat Indonesia yang lebih baik.
Kepala BRIN Arif Satria dalam seminar di Jakarta, Kamis menegaskan pihaknya memiliki fasilitas riset yang memadai di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat untuk dapat mendukung aktivitas riset Genomika tersebut.
"Pada prinsipnya, sekali lagi BRIN ingin membangun sinergi dalam ekosistem BGSI ini. Tentu kami mohon arahan Pak Menkes (Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin) hal-hal apa lagi yang harus kami lakukan, karena kami tentu sangat berkepentingan untuk mendapatkan insight, arahan terkait dengan arah bagaimana riset untuk bidang kesehatan ini," kata Arif.
Arif menyatakan pihaknya memiliki fasilitas berupa lima mesin genome sequencing, high-performance computer (HPC), laboratorium good manufacturing practice (GMP) vaksin, laboratorium biosafety level-3 (BSL-3), hingga laboratorium Cryo-EM yang diklaim tercanggih se-Asia Tenggara pada saat ini.
"Saya kira kita open platform ya, terbuka untuk siapapun. Baik termasuk untuk profesor, untuk para mahasiswa, termasuk para periset dan juga peneliti di Kemenkes untuk bisa terlibat dalam riset-riset kita," ujarnya menegaskan.
Baca juga: Pemerintah siapkan konsorsium BGSI guna tangani penyakit lebih presisi
Untuk menopang proyek riset, jelas Arif, pihaknya juga mengembangkan Indonesia Nucleotide Archive (Inna) sebagai wadah untuk repository sequence nukleotida dengan metadata yang mengacu pada standar global dan terintegrasi dengan infrastruktur penyimpanan repository BRIN.
Maka dari itu, ia menegaskan peran BRIN dalam proyek riset ini adalah sebagai pengembang genomic surveillance untuk penyakit infeksi emerging dan re-emerging, seperti influenza, nipah, resistensi antimikroba (AMR), tuberkulosis, dan lain sebagainya.
Selanjutnya, kata Arif, BRIN juga bisa membantu mengembangkan riset biomarker untuk memprediksi penyakit di masa depan berdasarkan karakteristik genetik populasi Indonesia.
"Jadi kalau kita bisa mampu menjadi memprediksi penyakit-penyakit masa depan, saya kira akan sangat bagus sekali. Dan tentu hal ini kita harus mengacu pada One Health juga, karena sumber penyakit masa depan akan sangat tergantung pada zoonosis, pada penyakit-penyakit yang dari hewan," tutur Arif Satria.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyebut pemerintah akan membuat konsorsium riset untuk memperkuat BGSI untuk menangani berbagai jenis penyakit yang dinilai sulit ditangani secara lebih presisi.
Adapun Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menekankan pentingnya menjaga kesehatan publik sebagai upaya mencapai Indonesia Emas 2045, dan teknologi BGSI menawarkan hasil pemeriksaan dan tindak lanjut yang sesuai dengan masing-masing individu.
Baca juga: RSCM luncurkan tes genomik pengobatan presisi untuk penyakit metabolik
Baca juga: Kemenkes: BGSi fokus pelayanan preventif tingkatkan kualitas hidup
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































