BRIN: Kelekak pulihkan ekosistem di bekas tambang timah Babel

1 hour ago 2

Pangkalpinang (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan keberadaan hutan kelekak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mempercepat pemulihan ekosistem dan danau bekas penambangan bijih timah di daerah itu.

"Kehadiran hutan kelekak di dekat lokasi tambang timah inkonvensional memberikan manfaat untuk pemulihan ekosistem di daerah ini," kata Ketua Kelompok Riset Pengelolaan Lanskap Antropogenik Pusat Riset Ekologi BRIN, Rozza Tri Kwatrina saat menjadi narasumber pada diskusi Menata Ulang Masa Depan Kelekak Babel secara daring di Pangkalpinang, Kamis.

Baca juga: BRIN: Pemda Babel terbitkan perda selamatkan hutan Kelekak

Ia menyatakan pemulihan ekosistem danau bekas tambang (kolong) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, karena adanya biologi perairan (plankton) seiring membaiknya kualitas air, struktur komunitas plankton bergeser dari organisme yang murni asidofilik (Chlorellasp) menjadi komunitas yang jauh lebih beragam mulai dari flagilaria, ampora, hingga kelompok rotifera.

"Bahan organik dari kelekak ini menjadi sumber makanan utama bagi mikroorganisme fungsional, seperti plankton pereduksi sulfat dan jenis mikoremediator lokal seperti genus amophora," katanya.

Ia menjelaskan fitoplankton ini secara aktif membersihkan air kolong dengan mengubah logam berat beracun menjadi senyawa sulfide padat yang tidak berbahaya di dasar sedimen kolong bekas tambang timah ini.

"Jarak kelekak yang dekat dengan kolong menjamin pasokan bahan organik konstan yang secara ilmiah mempercepat waktu pemulihan alami kolong dari yang seharusnya butuh waktu ratusan tahun menjadi hanya beberapa dekade saja," katanya.

Baca juga: Bupati Bangka Barat: Jaga "kelekak" durian sebagai identitas budaya

Baca juga: 1.243 pohon ditanam pada lahan kritis bekas penambangan timah Babel

Ia menyatakan hasil kajian BRIN, suhu tanah di hutan kelekak ini berkisar 28 hingga 29 derajat Celcius dan ini mengindikasikan bahwa ekosistem kelekak berada dalam kondisi mikroklimat yang sangat sehat.

"Rimbunnya pepohonan hutan kelekak, seperti durian, pelawan, cempedak, manggis berhasil menyaring panas matahari secara optimal, sehingga tanah di bawahnya tetap lembap dan hangat untuk menyuburkan akar serta mikroba tanah," katanya.

Pewarta: Aprionis
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |