Jayapura, Papua (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua mencatat Australia menjadi negara tujuan utama ekspor Papua pada Januari 2026 dengan porsi 71,17 persen dari total nilai ekspor.
Kepala BPS Papua Adriana Helena Carolina di Jayapura, Senin, mengatakan nilai ekspor Papua ke Australia pada Januari 2026 tercatat sebesar 3.083,48 ribu dolar AS.
"Selain Australia, dua negara tujuan ekspor terbesar lainnya yakni Selandia Baru sebesar 688,76 ribu dolar AS atau 15,90 persen, serta Papua Nugini senilai 363,26 ribu dolar AS atau 8,39 persen," katanya.
Menurut Adriana, secara keseluruhan, ekspor ke enam negara utama pada Januari 2026 tercatat sebesar 4.135,56 ribu dolar AS atau turun 28,98 persen dibandingkan Desember 2025, yang mencapai 5.823,26 ribu dolar AS.
Namun, ekspor Papua ke enam negara utama pada Januari 2026 itu meningkat 24,70 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 3.316,49 ribu dolar AS.
Sementara, total nilai ekspor Papua pada Januari 2026 sebesar 4.332,27 ribu dolar AS atau turun 30,69 persen dibandingkan Desember 2025 yang tercatat sebesar 6.250,77 ribu dolar AS.
"Penurunan tersebut dipengaruhi berkurangnya nilai ekspor pada sejumlah komoditas utama, meski secara tahunan masih menunjukkan tren positif pada beberapa negara tujuan," katanya.
Dia menambahkan berdasarkan jenisnya, ekspor Papua pada Januari 2026 didominasi komoditas nonmigas sebesar 99,87 persen, sedangkan migas hanya 0,13 persen terhadap total ekspor.
"Ekspor nonmigas pada periode tersebut terdiri atas kayu dan barang dari kayu (HS44) senilai 3.955,56 ribu dolar AS serta ekspor nonmigas lainnya sebesar 371,20 ribu dolar AS. Sementara itu, ekspor migas tercatat sebesar 5,50 ribu dolar AS," ujarnya.
Baca juga: Ekonomi Papua Tengah minus 8 persen, Tito: Ekspor Freeport tertahan
Baca juga: Realisasi nilai ekspor Papua Barat pada September naik 1,32 persen
Baca juga: Pertamina siap membawa produk UMK asal Papua ke pasar ekspor
Pewarta: Qadri Pratiwi
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































