Jakarta (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) memaparkan sejumlah mitra dagang Indonesia yang aktivitas perdagangannya di jalur pelayaran Selat Hormuz, mengingat ada dinamika konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memberikan dampak terhadap perdagangan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa untuk mengetahui secara pasti besaran dampak terhadap perdagangan Indonesia masih diperlukan kajian lebih lanjut.
Namun demikian, BPS memberikan gambaran mengenai nilai perdagangan Indonesia dengan beberapa negara yang berada di jalur Selat Hormuz, yakni Iran, Oman dan Uni Emirat Arab (UEA) selama tahun 2025.
Ia menjelaskan impor nonmigas Indonesia dari Iran pada 2025 tercatat sebesar 8,4 juta dolar AS. Komoditas utamanya terdiri dari buah-buahan (HS08) senilai 5,9 juta dolar AS, besi dan baja sebesar 0,8 juta dolar AS, serta mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS84) sebesar 0,7 juta dolar AS.
Sementara itu, impor nonmigas Indonesia dari Oman mencapai 718,8 juta dolar AS. Komoditas terbesar berasal dari besi dan baja dengan nilai 590,5 juta dolar AS, diikuti bahan bakar organik (HS29) sebesar 56,7 juta dolar AS, serta garam, belerang, batu dan semen (HS25) sebesar 44,2 juta dolar AS.
Adapun impor nonmigas dari Uni Emirat Arab tercatat sebesar 1,4 miliar dolar AS. Komoditas utamanya antara lain logam mulia dan perhiasan sebesar 511,1 juta dolar AS, kemudian garam, belerang, batu dan semen sebesar 43,2 juta dolar AS, serta aluminium dan barang daripadanya sebesar 181,6 juta dolar AS.
Dari sisi ekspor, Ateng menyebutkan Indonesia juga memiliki nilai perdagangan yang cukup besar dengan negara-negara tersebut.
Ekspor nonmigas Indonesia ke Iran tercatat sebesar 249,1 juta dolar AS, dengan komoditas utama berupa buah-buahan (HS08) senilai 86,4 juta dolar AS, kendaraan dan bagiannya (HS87) sebesar 34,1 juta dolar AS, serta lemak dan minyak hewan nabati (HS15) sebesar 22 juta dolar AS.
Sementara ekspor nonmigas Indonesia ke Oman mencapai 428,8 juta dolar AS, yang didominasi oleh lemak dan minyak hewan nabati sebesar 227,7 juta dolar AS, kendaraan dan bagiannya sebesar 64,2 juta dolar AS, serta bahan mineral (HS27) sebesar 48,1 juta dolar AS.
Adapun ekspor nonmigas Indonesia ke Uni Emirat Arab tercatat sebesar 4 miliar dolar AS. Komoditas utamanya meliputi logam mulia dan perhiasan sebesar 183,6 juta dolar AS, lemak dan minyak hewan nabati sebesar 510,3 juta dolar AS, serta kendaraan dan bagiannya sebesar 363,5 juta dolar AS.
"Untuk melihat potensi dampak jika konflik meningkat, tentunya ini diperlukan kajian yang lebih lanjut lagi. Kami hanya bisa memaparkan tadi beberapa komoditas," kata Ateng.
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dikerahkan untuk menutup Selat Hormuz di tengah situasi memanas di Kawasan Timur Tengah, kata Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari pada Sabtu (28/2).
"Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran," kata Jabari kepada penyiar Al-Mayadeen.
Sebelumnya pada hari itu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap target Iran, termasuk Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan juga menargetkan infrastruktur militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Baca juga: BPS catat surplus neraca dagang RI berlanjut 69 bulan di Januari 2026
Baca juga: BPS catat neraca dagang RI melonjak, lanjutkan tren surplus 68 bulan
Baca juga: Neraca dagang RI pada November 2025 surplus 2,66 miliar dolar AS
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































