Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Malang menyatakan hilal penentu 1 Syawal 1447 Hijriah/2026 Masehi yang diamati dari Kabupaten Malang, Jawa Timur, tak terlihat karena posisinya terhalang awan tebal.
Kepala Stasiun Geofisika Malang Ricko Kardoso seusai pelaksanaan rukyatul hilal yang diselenggarakan di Command Center Lantai 9 Kantor Bupati Malang, Kamis, mengatakan, ketinggian hilal di wilayah setempat berdasarkan hasil hisab yang dilakukan saat matahari terbenam pada pukul 17.54 WIB berada di 1,654 derajat.
"Saat matahari terbenam pukul 17.41 WIB hingga kami tunggu dan amati sampai waktu terbenam bulan di 17.50 WIB (hilal) tidak terlihat di ufuk barat, itu tertutup oleh awan. Dari hasil hisab berada di ketinggian 1,654 derajat di Malang dengan elongasi 5,1 derajat," kata Ricko.
Baca juga: Kemenag: Hilal 1 Syawal belum memenuhi kriteria MABIMS di Merauke
Ia menjelaskan ketinggian 1,654 derajat itu adalah kondisi riil di astronomi berdasarkan pengamatan menggunakan peralatan untuk pengamatan hilal.
Berdasarkan rilis BMKG yang dikutip oleh Ricko, ketinggian hilal di Indonesia saat matahari terbenam pada hari ini berada pada 0,91 derajat di Merauke, Papua Selatan, hingga 3,13 derajat di Sabang, Aceh.
Lalu untuk elongasi geosentris hilal, diperkirakan mencapai 4,54 derajat di Waris, Keerom, Papua, dan di Banda Aceh 6,1 derajat.
Untuk umur bulan mencapai 7,41 jam di Waris dan 10,44 jam di Banda Aceh.
Baca juga: Kemenag: Hilal 1 Syawal belum terlihat di Maluku
Sedangkan di Malang Raya lainnya, Stasiun Geofisika Malang memperkirakan untuk Kota Batu tinggi hilal mencapai 1,68 derajat dengan elongasi 5,51 derajat. Untuk Kota Malang diperkirakan tinggi hilal mencapai 1,66 derajat dengan elongasi 5,51 derajat.
Meski demikian pihaknya dalam pelaksanaan rukyatul hilal hanya memiliki wewenang dalam menyediakan layanan informasi yang sifatnya sebagai data awal.
Oleh karena itu, keputusan penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah tetap berada di tangan pemerintah pusat. "Keputusannya kami tetap menunggu hasil Sidang Isbat dari Kementerian Agama," ucapnya.
Baca juga: Meski beda penetapan Lebaran, tapi tetap silaturahmi jaga persatuan
Pewarta: Ananto Pradana
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































