Kupang (ANTARA) - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur (NTT) melepasliar seekor anak komodo yang masuk ke pemukiman warga di Kabupaten Manggarai Timur.
Kepala BBKSDA NTT Adhi Nurul Hadi di Kupang, Rabu, mengatakan evakuasi dilakukan setelah laporan warga Dusun Londang, Desa Nanga Mbaur, Kecamatan Sambi Rampas, terkait keberadaan komodo di dalam pondok.
“Respon cepat masyarakat sangat membantu proses penanganan agar dapat dilakukan secara aman, baik bagi warga maupun satwa," kata Adhi.
Baca juga: KLHK mengecam keras penyelundupan anak komodo
Dia mengatakan sebelum dievakuasi tim BBKSDA NTT mengidentifikasi anak komodo tersebut dan diketahui panjangnya 42 centimeter dan berat 0,08 kilogram atau masih dalam kategori hatchling.
Petugas melakukan pemeriksaan menyeluruh, termasuk pengukuran, pemasangan penanda PIT tag (microchip), serta pengambilan sampel darah sebelum satwa dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya di kawasan Watu Pajung.
Dia menjelaskan pelepasliaran dilakukan dengan mempertimbangkan kesesuaian habitat dan tingkat kelangsungan hidup, termasuk menempatkan satwa di atas pohon guna menghindari predator dan membantu proses adaptasi.
Baca juga: Polisi tetapkan tersangka penyeludupan anak komodo di Labuan Bajo
BBKSDA NTT menilai kemunculan komodo di sekitar permukiman perlu menjadi perhatian serius, mengingat dalam beberapa waktu terakhir laporan serupa meningkat di wilayah Kecamatan Sambi Rampas.
BBKSDA NTT tak ingin ada konflik antara hewan yang dilindungi tersebut dengan warga di daerah tersebut. Pasalnya berdasarkan monitoring yang dilakukan oleh tim BBKSDA jumlah atau estimasi komodo di daerah itu berkisar dari 5 hingga 19 ekor.
Karena itu BBKSDA telah mengimbau warga untuk selalu waspada, agar tidak terjadi konflik antara komodo dengan warga.
Baca juga: Populasi komodo KBS bertambah 11 ekor dari tiga induk
Pewarta: Kornelis Kaha
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































