Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) berupaya memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen kopi terbesar keempat di dunia melalui kegiatan tahunan Java Coffee, Flavors and Festival (JCFF) 2026 di Surabaya, Jawa Timur.
"Kalau kita lihat dari data, di dunia khusus untuk kopi, produsen kopi dunia ada empat dan Indonesia nomor empat," kata Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Timur Rifki Ismal di Surabaya, Sabtu.
Ia mengatakan terdapat empat negara sebagai produsen kopi di dunia yakni mencakup Brasil, Vietnam, Kolombia, dan Indonesia.
Untuk Indonesia, kata Rifki, produksi kopinya mencapai 780 ribu ton per tahun dengan Jawa Timur menjadi salah satu kontributor produsen kopi terbesar secara nasional khususnya wilayah Jawa yaitu mencapai 53 ribu ton per tahun.
"Kopi di wilayah Jawa Timur itu termasuk yang paling tinggi dengan produksi 53 ribu ton sedangkan Jawa Tengah dan Jawa Barat kurang lebih 25 ribu ton," ujar dia.
Potensi produksi kopi yang berlimpah itu lah, menurut Rifki, yang ingin dikembangkan oleh Bank Indonesia agar dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen kopi dunia melalui ekspor.
Terlebih, produsen-produsen kopi asal Indonesia justru berasal dari pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sehingga memperluas pasar mereka akan memberi multiplier effect bagi perekonomian.
Dalam hal ini, ia mengatakan Bank Indonesia mendukung pengembangan dan perluasan pasar kopi lokal melalui ajang JCFF 2026 yang memiliki berbagai agenda business matching dan business coaching.
Bahkan dalam agenda business matching festival yang berlangsung mulai 17-19 Juli 2026 di Alun-Alun Kota Surabaya itu dapat mempertemukan UMKM kepada para pembeli yang tidak hanya dari nasional namun juga global.
Rifki mengaku optimistis output JCFF 2026 akan mampu melampaui capaian pelaksanaan tahun sebelumnya, yang berhasil mendapat kunjungan dari sekitar 130 ribu orang dengan total transaksi mencapai Rp107 miliar selama tiga hari pelaksanaan.
Optimisme itu cukup tinggi, kata dia, lantaran terdapat lebih dari 60 tenant UMKM yang terlibat termasuk 41 UMKM kopi binaan Bank Indonesia serta UMKM produk lainnya seperti cokelat, teh, hingga herbal dan rempah.
"Alhamdulillah, tahun lalu Rp107 miliar. Tahun ini kita mengharapkan transaksinya lebih tinggi karena tidak hanya kopi, teh dan juga coklat, tapi juga banyak produk lain yang kita libatkan tahun ini," katanya.
Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































